Perhumas Soroti Ancaman Deepfake dalam Konvensi Humas di Solo
Perhumas menyoroti risiko disinformasi, deepfake, dan manipulasi persepsi dalam Konvensi Humas Indonesia di Solo. Organisasi itu mendorong verifikasi, empati, akurasi, dan etika saat memakai AI.
Oleh Kevin Mikael Januar
· 2 menit baca
Solo — Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) menyoroti ancaman disinformasi, deepfake, manipulasi persepsi, dan berita palsu berbasis kecerdasan buatan dalam Konvensi Humas Indonesia 2026 di Solo, Jawa Tengah, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Ketua Umum Perhumas Boy Kelana Soebroto mengatakan perkembangan artificial intelligence (AI) membuka peluang besar bagi peradaban, tetapi juga meningkatkan kemampuan membuat informasi menyesatkan dalam skala dan kecepatan yang sulit dibayangkan. Ia menyampaikan hal itu saat membuka konvensi yang berlangsung di Solo.
Perhumas menilai penggunaan teknologi perlu berjalan bersama kemampuan berpikir kritis, kecerdasan emosional, empati, kebijaksanaan, akurasi, dan etika komunikasi. Praktisi humas juga dituntut membedakan fakta, opini, manipulasi, serta kebohongan sebelum menyebarkan informasi.
Kepercayaan publik bergantung pada verifikasi informasi
Risiko tersebut relevan bagi pembaca karena konten berbasis AI dapat memengaruhi cara masyarakat memahami isu publik dan menilai reputasi lembaga. Boy menyebut algoritma digital memungkinkan sebuah narasi menjangkau jutaan orang dalam hitungan detik, sementara algoritma tidak selalu dapat membedakan informasi yang benar, adil, dan bertanggung jawab.
Dalam forum itu, Perhumas menekankan pentingnya verifikasi informasi, pengelolaan data, perlindungan kerahasiaan, serta pemahaman konteks dan dinamika publik. Praktisi humas tidak cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi juga perlu mengidentifikasi risiko komunikasi dan memberi kejelasan ketika publik menghadapi ketidakpastian.
Konvensi Humas Indonesia 2026 diselenggarakan Perhumas pada 17–18 Oktober 2026 di Solo, Jawa Tengah. Forum tersebut membahas tantangan komunikasi publik, pemanfaatan AI, disinformasi, dan upaya menjaga kepercayaan publik melalui kejujuran, transparansi, integritas, serta standar etika.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Lingkungan
Kebakaran Hutan di Lereng Gunung Lawu Ditangani 244 Personel
Kebakaran hutan di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, meluas hingga sekitar 100 hektare. Sebanyak 244 personel dikerahkan, sementara medan terjal dan an…
Terbaru di Teknologi

Berita utama hari ini

Baca juga





