Siswa di Ungaran Terima Telur Mentah dari Program MBG, SPPG dan BGN Minta Maaf
Video ompreng program Makan Bergizi Gratis (MBG) berisi telur yang masih mentah di sebuah sekolah di Ungaran, Kabupaten Semarang, viral dan memicu sorotan.
Oleh Arsyid Muhamad
· 3 menit baca
Ungaran — Video sajian telur mentah dalam ompreng program Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu sekolah di wilayah Ungaran, Kabupaten Semarang, viral di media sosial dan memicu sorotan terhadap pelaksanaan program tersebut di daerah.
Dalam video yang beredar, terlihat telur sebagai lauk MBG telah dikupas sebagian cangkangnya, namun isinya masih mentah dan menetes ke dalam ompreng. Perekam video kemudian menyoroti irisan kentang yang berwarna cokelat tua dan berbintik hitam, berbeda dengan irisan kentang lain yang berwarna cokelat muda.
Koordinator Wilayah Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (Korwil SPPG) Kabupaten Semarang, Muhammad Romi Dian Sukma, menyampaikan permintaan maaf atas kejadian tersebut. Ia menegaskan SPPG yang menyajikan menu itu sudah dievaluasi dan dilaporkan kepada pimpinan.
“Pertama-tama saya memohon maaf atas kejadian yang terjadi seperti yang diberitakan. Saat ini kami sudah melakukan pelaporan kepada pimpinan dan untuk SPPG yang bersangkutan sudah kami evaluasi,” kata Romi melalui pesan singkat yang dikutip media pada 21 September 2026.
Dalam keterangan yang sama, Romi berharap penerima manfaat program MBG tidak ragu menyampaikan kritik dan saran secara langsung kepada dapur MBG atau SPPG bila menemukan masalah pada menu yang disajikan. Menurut dia, masukan dari siswa dan orang tua diperlukan untuk menjaga mutu dan keamanan makanan.
Ketua Koordinator Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Jawa Tengah, Reza Mahendra, menjelaskan insiden telur tidak matang itu terjadi pada salah satu SPPG di Ungaran Barat pada 18 September 2026. Reza menyatakan kasus telur mentah itu hanya ditemukan pada satu ompreng dari ribuan porsi yang disajikan pada hari tersebut.
“Menu telur yang tidak matang dilaporkan dalam satu menu dari 2.463 penerima manfaat,” ujar Reza, seraya menyebut BGN telah menerima laporan dan meneruskan evaluasi terhadap dapur penyelenggara MBG di lokasi kejadian.
Reza menambahkan, BGN melalui jejaring pengawasan di daerah diminta memastikan seluruh SPPG memenuhi standar mutu dan keamanan pangan yang ditetapkan untuk program MBG. Penyelenggara yang terbukti berulang kali menyajikan menu tidak layak konsumsi dapat dikenai sanksi administrasi berupa penghentian sementara operasional dapur.
Sebelumnya, BGN secara nasional telah beberapa kali menyetop sementara sejumlah SPPG akibat temuan menu MBG yang tidak memenuhi standar, mulai dari roti berjamur, buah busuk, lauk basi, hingga telur mentah atau busuk. Kebijakan tersebut diambil sebagai bagian dari evaluasi mutu pelaksanaan MBG dan upaya mencegah kejadian serupa terulang di daerah lain.
Program MBG merupakan kebijakan pemerintah pusat untuk menyediakan makanan bergizi bagi pelajar, yang pelaksanaannya didukung jaringan SPPG di berbagai daerah. Insiden di Ungaran ini kembali menyoroti pentingnya pengawasan kualitas bahan dan proses pengolahan makanan di dapur MBG agar tujuan peningkatan gizi siswa tercapai tanpa mengorbankan keselamatan konsumsi.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Politik
MK wajibkan persetujuan DPR untuk ubah belanja APBN, apa artinya bagi program MBG
Putusan MK Nomor 100/PUU-XXIV/2026 mewajibkan persetujuan DPR bila pemerintah mengubah belanja pusat menurut fungsi. MBG tidak dibatalkan, tetapi ruan…
Terbaru di Daerah
Berita utama hari ini

Baca juga




