Tessar Napitupulu Bangun Kembali Usaha dan Kembangkan Strategi AI
Tessar Napitupulu membangun kembali Arfadia setelah proyek besar menggerus modal perusahaan. Ia kemudian mengembangkan strategi GEO; Arfadia mencatat 15 calon klien per hari sejak Maret 2026.
Oleh Asyinta Sastra
· 2 menit baca
Indonesia — Pada 28 Oktober 2026, Tessar Napitupulu menceritakan bahwa ia membangun kembali usaha Arfadia dari rumah ibunya setelah proyek besar membuat modal perusahaan tergerus dan tagihan serta tuntutan datang bersamaan.
Mengapa ini penting: Pelaku usaha digital menghadapi perubahan saluran pencarian calon klien; Arfadia mencatat 15 calon klien per hari sejak Maret 2026 dan 83 persen mengaku datang melalui rekomendasi AI.
Menurut laporan CNNIndonesia.com, Tessar menyelesaikan kewajiban itu selama berbulan-bulan, antara lain dengan melepas aset satu per satu. Pengalaman tersebut mengubah caranya menyaring proyek dan menilai calon klien sebelum menerima pekerjaan.
Arfadia, perusahaan yang dibangun Tessar sejak 2008, sempat menghadapi penurunan jumlah klien ketika popularitas ChatGPT meningkat. Tessar kemudian mempelajari cara mesin kecerdasan artifisial memilih sumber dan merek untuk jawabannya.
Pada 2023, Arfadia menawarkan generative engine optimization (GEO), yakni pendekatan agar merek lebih mudah ditemukan, dikutip, dan direkomendasikan layanan berbasis AI seperti ChatGPT, Gemini, Perplexity, Claude, dan Grok.
Arfadia mencatat sekitar 15 calon klien per hari dari berbagai negara sejak Maret 2026. Sebanyak 83 persen calon klien itu mengaku mengenal Arfadia setelah mendapat rekomendasi dari asisten AI, menurut laporan tersebut.
Data itu muncul setelah perusahaan beradaptasi dengan perubahan perilaku pencarian informasi. Sebelumnya, bisnis Arfadia bertumpu pada pencarian Google; kini Tessar menilai perusahaan juga perlu memahami bagaimana merek muncul dalam jawaban mesin AI.
CNBC Indonesia melaporkan pada 23 Oktober 2026 bahwa survei Arfadia terhadap 127 bisnis pada Januari-Februari 2026 menemukan 77 persen responden belum memiliki strategi formal untuk meningkatkan visibilitas merek di mesin pencari berbasis AI.
Arfadia juga melaporkan bahwa responden dengan strategi GEO formal mencatat rata-rata kutipan AI bulanan 3,4 kali lebih banyak daripada responden yang belum memiliki strategi tersebut.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini
Teknologi
Komdigi Siapkan Perluasan Pusat Data hingga Indonesia Timur
Kementerian Komunikasi dan Digital menyiapkan perluasan pusat data swasta ke Indonesia Timur melalui penataan lokasi, energi, konektivitas cadangan, d…
Terbaru di Inspirasi

Berita utama hari ini

Baca juga





