Indonesia Serukan G20 Cegah Konflik Maritim Menjadi Krisis Global
Dalam forum G20 di Atlanta pada 30 Oktober 2026, Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir menyerukan dialog dan deeskalasi untuk menjaga jalur perdagangan serta pasokan energi, pupuk, dan pangan.
Oleh Kevin Mikael Januar
· 2 menit baca
Atlanta — Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir menyerukan penguatan dialog, deeskalasi, dan penghormatan terhadap hukum internasional dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri G20 pada 30 Oktober 2026 di Atlanta, Amerika Serikat.
Mengapa ini penting: Seruan Indonesia menyangkut keamanan jalur perdagangan serta pasokan energi, pupuk, dan pangan global yang dapat memengaruhi kepentingan ekonomi Indonesia.
Arrmanatha menyampaikan seruan itu dalam sesi pleno yang membahas ketegangan geopolitik. Menurut laporan The Jakarta Post, konflik yang memengaruhi Selat Hormuz, Laut Hitam, dan Laut Merah telah mengganggu jalur perdagangan global serta mengancam pasokan energi, pupuk, dan pangan.
Ketahanan nasional
Dalam pertemuan yang berlangsung pada 30–31 Oktober 2026, Indonesia menekankan keterkaitan antara ketahanan nasional, regional, dan global. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot juga bertemu Arrmanatha di sela-sela forum pada 30 Oktober untuk membahas kerja sama pertahanan dan sejumlah krisis internasional.
Menurut Tempo, Arrmanatha mengikuti tiga sesi pleno yang membahas geopolitik, energi, dan rantai pasok. Dalam sesi energi, ia menyebut keamanan energi sebagai bagian dari ketahanan nasional dan memaparkan penguatan kemandirian energi melalui program biodiesel B50 serta pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas gabungan 100 gigawatt.
Dalam sesi rantai pasok, Indonesia mendorong penguatan keandalan rantai pasok global dan sistem perdagangan multilateral. Indonesia juga mengusulkan peningkatan kesiapsiagaan, pembiayaan jangka panjang yang terjangkau, serta pembentukan lebih banyak pusat produksi, terutama di negara berkembang.
Arrmanatha mengatakan konflik maritim harus dicegah agar tidak berkembang menjadi krisis global. Ia menilai keamanan jalur laut berkaitan langsung dengan keamanan pangan dunia.
Respons diplomatik
Pertemuan bilateral dengan Barrot menjadi pertemuan pertama kedua menteri sejak Arrmanatha menjabat. Kementerian Luar Negeri Prancis menyebut keduanya membahas perkembangan di Gaza dan Timur Tengah, penarikan UNIFIL dari Lebanon, serta kebutuhan mendukung Angkatan Bersenjata Lebanon.
Seruan Indonesia di forum G20 menempatkan keamanan jalur perdagangan, energi, dan pangan sebagai bagian dari agenda diplomasi untuk merespons ketegangan geopolitik.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Ekonomi & Keuangan
Bulog Catat Pengadaan Beras 102,88 Persen, Proyeksikan 130 Persen
Perum Bulog mencatat pengadaan beras dalam negeri mencapai 4.115.014 ton atau 102,88 persen dari target pemerintah hingga 9 Oktober 2026 dan memproyek…
Terbaru di Internasional

Berita utama hari ini

Baca juga





