Mengapa Risiko Investasi Indonesia Membesar di Tengah Tekanan Domestik?
Analisis Tempo menilai risiko investasi Indonesia membesar karena tekanan global dan persoalan domestik. Pemerintah didorong memperkuat APBN, Danantara, serta kemitraan swasta.
Oleh Mukmin John
· 2 menit baca
Jakarta — Analisis Tempo pada 8 November 2026 menilai risiko investasi Indonesia membesar akibat tekanan ekonomi global dan persoalan domestik, termasuk ketimpangan pertumbuhan, kebijakan fiskal, serta penurunan kepercayaan publik.
Dalam laporan tersebut, tantangan investasi tidak hanya dikaitkan dengan kondisi eksternal. Perubahan kebijakan, tekanan fiskal, dan daya beli masyarakat disebut ikut memengaruhi kepastian usaha serta keputusan investasi. Prospek ekonomi nasional juga dikaitkan dengan kinerja dan kewenangan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Pemerintah didorong menjaga iklim investasi melalui dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), peran Danantara, serta kemitraan dengan sektor swasta. Kebijakan itu diarahkan untuk mempertahankan kepercayaan investor dan memastikan investasi tetap mendukung perekonomian nasional.
Risiko investasi berkaitan dengan kepercayaan dan kebijakan fiskal
Tekanan domestik menjadi perhatian karena pelaku usaha membutuhkan kepastian regulasi, daya beli yang sehat, dan iklim investasi yang dapat dipercaya. Ketika kebijakan berubah cepat atau komunikasi pemerintah kurang meyakinkan, perusahaan menghadapi kesulitan dalam menyusun rencana jangka panjang.
Danantara menjadi salah satu unsur penting dalam pembahasan karena kewenangan dan kinerjanya dapat memengaruhi prospek ekonomi nasional. Pembiayaan dan tata kelola lembaga itu juga berkaitan dengan persepsi terhadap risiko fiskal serta kepercayaan investor.
Bagi pembaca Kabar18, perkembangan ini relevan karena risiko investasi dapat memengaruhi arus modal, pembiayaan usaha, pasar keuangan, dan ruang pemerintah dalam menjalankan program ekonomi. Stabilitas fiskal dan kepastian kebijakan menjadi faktor yang menentukan daya tarik Indonesia bagi investor.
Pemerintah juga menekankan pentingnya sinergi kebijakan fiskal, peran Danantara dalam investasi strategis, dan partisipasi sektor swasta. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kredibilitas ekonomi serta kepercayaan investor dalam jangka panjang.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Ekonomi & Keuangan
Bank Mandiri Catat Laba Rp46,5 Triliun di Jakarta
Bank Mandiri membukukan laba bersih bank only Rp46,5 triliun hingga Oktober 2026, tumbuh 19,6 persen secara tahunan. Kredit mencapai Rp1.635 triliun.
Terbaru di Analisis

Berita utama hari ini

Baca juga




