Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,47 Persen, DPR Soroti Daya Beli
BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen secara tahunan pada triwulan III 2026. Konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama, sementara DPR menyoroti daya beli dan inflasi pangan.
Oleh Pandi Muktar
· 2 menit baca
Jakarta — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen secara tahunan pada triwulan III 2026 dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 5 November 2026. Pertumbuhan itu meningkat dibandingkan triwulan II 2026 yang tercatat 5,29 persen.
Konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama pertumbuhan dari sisi pengeluaran. Komponen ini tumbuh 5,04 persen secara tahunan dan menyumbang 2,62 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto mencapai 51,97 persen.
BPS menyebut pertumbuhan konsumsi rumah tangga didorong oleh peningkatan transaksi barang dan jasa secara daring, mobilitas masyarakat, aktivitas pariwisata, serta kebijakan pemerintah untuk mengendalikan inflasi.
Pertumbuhan perlu diikuti penguatan daya beli
Perhatian terhadap kualitas pertumbuhan muncul karena konsumsi rumah tangga pada triwulan III 2026 sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Perlambatan tersebut berlangsung ketika inflasi meningkat dan dapat menekan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tekanan pada daya beli berkaitan dengan pendapatan dan kualitas pekerjaan. Ketika pendapatan pekerja tidak membaik, kemampuan mempertahankan standar hidup layak juga berisiko melemah. Pengendalian inflasi, termasuk inflasi pangan, menjadi bagian penting agar pertumbuhan ekonomi tetap terasa bagi rumah tangga.
Data BPS menunjukkan produk domestik bruto atas dasar harga berlaku mencapai Rp 6.741 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan mencapai Rp 3.633,2 triliun pada triwulan III 2026. Konsumsi pemerintah juga tumbuh 8,95 persen pada periode tersebut.
Pemerintah perlu menjaga konsumsi domestik melalui kebijakan yang mendukung daya beli dan stabilitas harga. Perhatian terhadap ketimpangan juga diperlukan agar manfaat pertumbuhan tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok atau wilayah tertentu.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Analisis
Geopolitik Dinilai Lebih Menekan Rupiah daripada Sentimen MSCI
Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz menilai risiko geopolitik lebih berpengaruh terhadap rupiah daripada sentimen MSCI. Tekanan dapat datang melalui…
Terbaru di Ekonomi & Keuangan

Berita utama hari ini

Baca juga




