Nezar: Peta Jalan AI Nasional Sengaja Berjangka Pendek, AI Talent Factory Segera ke ITS
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital menjelaskan mengapa peta jalan AI 2026–2029 tidak dipatok sepuluh tahun. Program pencetak pengembang AI di kampus segera bertambah, dari UB dan UGM ke ITS.
Oleh Kevin Mikael Januar
Penanggung Jawab Redaksi: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Tangerang — Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan Peta Jalan Kecerdasan Artifisial (AI) Nasional 2026–2029 sengaja dibuat berjangka pendek supaya aturan sanggup mengikuti teknologi yang berubah cepat. Ia menyampaikannya dalam seminar Dies Natalis ke-10 Universitas Pradita di Tangerang, Rabu, 16 September 2026.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) merangkum pernyataan itu dalam Siaran Pers No. 195/HM-KKD/9/2026 yang terbit Kamis, 17 September. Siaran pers tersebut menyebut peta jalan dirancang untuk horizon lima tahun, sedangkan dokumennya bertajuk Peta Jalan AI Nasional 2026–2029.
Nezar beralasan, patokan sepuluh tahun akan menyulitkan pemerintah mengubah regulasi dengan cepat, padahal kemampuan AI kerap melampaui perkiraan. Ia mencontohkan AI generatif — teknologi yang menghasilkan teks, gambar, dan suara — yang menurut dia memunculkan akibat tak terduga, bahkan bagi para pengembangnya sendiri.
Dengan rentang yang lebih pendek, kebijakan bisa dievaluasi lalu disesuaikan begitu muncul teknologi atau risiko baru. Siaran pers itu juga mencatat satu persoalan yang belum tuntas: cara sebagian sistem AI sampai pada keputusannya masih sulit dijelaskan.
Peta jalan tidak berdiri sendiri. Pemerintah juga menggarap aturan etika AI, yang menurut siaran pers itu menjadi bagian dari kerangka tata kelola AI nasional. Nezar menyebut kedua dokumen tersebut instrumen untuk membangun ekosistem AI yang bertanggung jawab.
Pegangannya empat: keamanan, etika, inklusivitas, dan kepentingan publik. Tentang tujuan akhirnya, siaran pers Komdigi mengutip Nezar: “Kita ingin teknologi yang inklusif, yang berdaya dan berdaulat.”
Pabrik talenta di tiga kampus
Dua hari kemudian, Jumat, 18 September, Nezar memaparkan sisi sumber daya manusianya di IABC Indonesia Conference 2026. Suara.com melaporkan, ia menjelaskan AI Talent Factory, program yang dikerjakan Komdigi bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta beberapa kampus.
Program itu sudah berjalan di Universitas Brawijaya dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Surabaya, kata Nezar, segera menyusul.
Pesertanya mahasiswa sarjana dan pascasarjana yang lolos seleksi ketat. Mereka dikumpulkan dalam satu kelas, lalu menerima satu atau beberapa use case — persoalan nyata yang harus dipecahkan dengan AI — dengan tenggat tertentu, misalnya enam bulan. Tiap kampus menggarap kasus berbeda, dan satu angkatan berlangsung kira-kira satu semester.
Hasil kerja mahasiswa diarahkan untuk menjawab persoalan pemerintah. Salah satunya sistem manajemen pembelajaran (learning management system) berbasis AI untuk program Sekolah Rakyat, yang diharapkan menyediakan tutor AI bagi siswa di luar jam sekolah. Kasus lain menyangkut deteksi misinformasi dan disinformasi, serta penanganan judi online: dari penelusuran otomatis (crawling), deteksi, hingga identifikasi.
Nezar menekankan urutan kerjanya: tentukan dulu masalah yang hendak dipecahkan, baru teknologi menyusul. Laman pusat AI UGM mencatat, lokakarya AI Talent Factory yang digelar Komdigi bersama UGM pada 17 April 2026 melibatkan 98 mahasiswa dan 28 mentor dari UGM, Universitas Brawijaya, dan ITS.
Mengapa ini penting
Peta jalan berumur pendek berarti pemerintah membuka ruang evaluasi lebih sering. Pelaku usaha, kampus, dan pengembang perlu bersiap mengikuti penyesuaian aturan itu.
Komdigi mengaitkan peta jalan AI dengan dua rujukan jangka panjang: Visi Indonesia Digital 2045 dan visi Indonesia Emas. Arahnya: Indonesia tidak berhenti sebagai pemakai, tetapi punya fondasi untuk mengembangkan dan memanfaatkan AI di dalam negeri. AI Talent Factory menjadi salah satu ujiannya — apakah kampus mampu melahirkan pembuat solusi, bukan sekadar pengguna aplikasi.
Angka kunci
- 2026–2029: periode Peta Jalan AI Nasional; siaran pers Komdigi menyebut horizonnya lima tahun, bukan sepuluh.
- Tiga kampus: Universitas Brawijaya dan UGM sudah berjalan, ITS segera bergabung (Suara.com).
- Misalnya enam bulan: contoh tenggat pengerjaan use case yang disebut Nezar; satu angkatan kira-kira satu semester (Suara.com).
- 98 mahasiswa dan 28 mentor: peserta lokakarya AI Talent Factory pada 17 April 2026 (laman AI UGM).
Apa selanjutnya
Payung hukumnya belum terbit. Kompas.com melaporkan, pada 3 September 2026 Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah menyatakan rancangan peraturan presiden tentang AI sudah diparaf seluruh menteri terkait dan tinggal menunggu tanda tangan Presiden. Menurut Edwin, pemerintah menyiapkan dua perpres: satu mengatur etika penggunaan AI, satu lagi peta jalan AI.
Uzone.id dalam laporan 19 September menulis pemerintah masih menunggu restu Presiden, dengan target aturan rampung tahun ini. Hingga artikel ini disusun, sumber-sumber yang dibuka redaksi belum memuat pengumuman bahwa kedua peraturan itu telah diteken. Di jalur talenta, agenda terdekat yang disebut Nezar ialah bergabungnya ITS ke AI Talent Factory.
Sumber
- Komdigi — Siaran pers: AI berkembang pesat, Wamen Nezar: regulasi harus mampu menyesuaikan
- Suara.com — Komdigi siapkan AI Talent Factory, mahasiswa tak cuma jadi pengguna
- Uzone.id — Komdigi atur peta jalan AI berlaku lima tahun
- Kompas.com — Perpres AI tinggal tunggu tanda tangan Presiden, target terbit tahun ini
- AI UGM — Lokakarya AI Talent Factory untuk pengembang AI generasi baru
Berita berikutnya

Komdigi Beri Tenggat 22 September bagi 25 PSE Belum Terdaftar, Ada Whoosh dan Lion Air
Kementerian Komunikasi dan Digital menyurati 23 penyelenggara sistem elektronik domestik dan dua asing pada 16 September. Yang belum mendaftar hingga…
Baca juga





