Kabar18.com

Kamis, 15 Oktober 2026

Perusahaan di Indonesia Diimbau Memisahkan Backup untuk Hadapi Ransomware AI

Perusahaan di Indonesia diimbau memisahkan sistem cadangan dari jaringan operasional karena ransomware berbasis kecerdasan buatan dapat mengenkripsi atau menghapus backup saat sistem utama ditembus.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Papan ketik dengan lampu latar di depan layar bertuliskan data transfer complete.
Ilustrasi: Papan ketik dengan lampu latar di depan layar bertuliskan data transfer complete. · Foto: Rafael Minguet Delgado / Pexels

Indonesia — Perusahaan di Indonesia diimbau memisahkan sistem cadangan data dari infrastruktur operasional untuk menghadapi ransomware berbasis kecerdasan buatan (AI). Imbauan itu disampaikan dalam pembahasan keamanan siber pada 14 Oktober 2026.

Mengapa ini penting: Perusahaan dan lembaga yang mengandalkan sistem digital perlu menyiapkan cadangan terpisah agar pemulihan layanan tetap tersedia ketika jaringan utama terkena ransomware.

Menurut Liputan6, riset Synology menunjukkan hanya sekitar 2 dari 10 perusahaan di Indonesia yang sangat yakin dapat memulihkan operasional dengan cepat setelah serangan ransomware. Praktik yang menyatukan sistem produksi dan cadangan membuat salinan data berisiko dimodifikasi, dienkripsi, atau dihapus ketika jaringan utama ditembus.

Strategi yang didorong mencakup immutable backup, yakni salinan yang tidak dapat diubah atau dihapus, serta air-gap yang memisahkan lingkungan pemulihan dari jaringan operasional secara fisik atau logis.

Risiko tersebut sejalan dengan peringatan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Menurut Bisnis.com, BSSN mencatat sekitar 3,1 miliar anomali trafik di ruang siber Indonesia hingga Oktober 2026, dengan lebih dari 85 persen terkait malware.

Deputi Bidang Operasi Keamanan Siber dan Sandi BSSN Bondan Widiawan mengatakan AI dapat membuat malware dan ransomware lebih adaptif dalam menghindari pertahanan organisasi. Ia menilai organisasi perlu memperbarui strategi keamanan karena serangan memiliki kecepatan, skala, presisi, dan kemampuan adaptasi yang lebih tinggi.

Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta juga mendorong penguatan sistem cadangan dan pemulihan layanan. Dalam laporan Republika, ia mengatakan ketahanan siber diperlukan agar gangguan pada satu sistem tidak melumpuhkan banyak layanan sekaligus.

Risiko bagi operasional

Pemisahan cadangan data menjadi bagian dari kesiapan pemulihan bagi perusahaan dan lembaga yang mengandalkan sistem digital. Sektor yang disebut Sukamta antara lain telekomunikasi, energi, perbankan, transportasi, kesehatan, dan pelayanan pemerintahan.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Teknologi

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.