Restoran dan Kafe Berpotensi Terdampak Downgrade Lifestyle
Restoran dan kafe termasuk sektor yang berpotensi terdampak tren downgrade lifestyle. Konsumen mengurangi belanja nonpokok, menunda barang mahal, dan memilih produk lebih terjangkau.
Oleh Asyinta Sastra
· 2 menit baca
Jakarta — Laporan 20 Oktober 2026 menyebut restoran dan kafe termasuk sektor yang berpotensi terdampak tren downgrade lifestyle di Indonesia pada 2026. Perubahan pola konsumsi membuat masyarakat mengurangi belanja nonpokok, menunda pembelian barang mahal, atau memilih produk yang lebih terjangkau.
Bisnis.com melaporkan otomotif, properti, restoran dan kafe, ritel, serta hiburan perlu mencermati perubahan tersebut. Dampaknya terutama berpotensi dirasakan usaha yang bergantung pada belanja diskresioner, yakni pengeluaran yang bukan kebutuhan wajib.
Pada sektor restoran, kafe, pariwisata, dan perhotelan, konsumen dapat mengurangi frekuensi makan di luar atau memilih perjalanan dan akomodasi yang lebih hemat. Pola ini berpotensi menekan pendapatan pelaku usaha apabila berlangsung luas.
Perubahan belanja memengaruhi usaha nonpokok
Downgrade lifestyle merujuk pada penurunan standar pengeluaran dibandingkan sebelumnya. Bentuknya antara lain mengurangi belanja barang nonpokok, beralih ke produk yang lebih murah, serta memangkas anggaran rumah tangga.
Laporan RRI pada 18 Oktober 2026 juga menyebut restoran, kafe, pariwisata, dan perhotelan sebagai bidang yang berpotensi merasakan perubahan pola belanja. Konsumen dapat mengurangi kegiatan makan di luar tanpa sepenuhnya menghentikannya.
Namun, dampaknya tidak merata. Sebagian usaha dengan harga lebih murah justru berpeluang memperoleh tambahan permintaan dari konsumen yang menyesuaikan pengeluaran. Laporan Bisnis.com juga menyebut konsumsi rumah tangga secara nasional masih terus bertambah.
Perubahan ini memberi sinyal kepada pelaku usaha untuk mencermati pergeseran prioritas belanja masyarakat. Sektor yang menawarkan pilihan lebih terjangkau dapat menjadi alternatif ketika konsumen menahan pembelian barang mahal dan mengurangi pengeluaran sekunder.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Teknologi
Cisco: 40 Persen Organisasi Indonesia Belum Ekstensif Pakai Agen AI
Riset Cisco mencatat 40 persen organisasi di Indonesia belum memakai agen AI secara ekstensif untuk keamanan siber. Skor pertahanan siber rata-rata me…
Terbaru di Gaya Hidup

Berita utama hari ini

Baca juga




