Kabar18.com

Sabtu, 19 September 2026

Fuad Hasan, Lulusan AAL 2002 yang Disiapkan Memimpin Kapal Induk Pertama Indonesia

Kolonel Laut (P) Mochamad Fuad Hasan, mantan Komandan KRI Raden Eddy Martadinata-331, ditunjuk Mabes TNI AL sebagai calon komandan Giuseppe Garibaldi, yang dijadwalkan menjadi KRI Sriwijaya pada 24 September.

Oleh

Penanggung Jawab Redaksi: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Fuad Hasan, Lulusan AAL 2002 yang Disiapkan Memimpin Kapal Induk Pertama Indonesia

Jakarta — Kolonel Laut (P) Mochamad Fuad Hasan, lulusan Akademi Angkatan Laut 2002, disiapkan menjadi komandan pertama kapal induk Indonesia. Ia menyampaikan penunjukan dari Markas Besar TNI AL itu di Dermaga 107 Tanjung Priok, Jumat, 18 September 2026, di depan Giuseppe Garibaldi yang baru bersandar.

Kapal hibah dari Italia itu belum berpindah tangan. Menurut Antara, Garibaldi masih berbendera Italia dan dipimpin Kapten Marco Guerriero. Serah terima dijadwalkan pada 24 September 2026; pada hari itu kapal berganti nama menjadi KRI Sriwijaya dan Fuad resmi menjabat komandan.

Sebelum penugasan ini, Fuad memimpin fregat KRI Raden Eddy Martadinata-331. Kepada Kompas.com ia menyebut dirinya bagian dari Angkatan 48 AAL. Ketika baru lulus dan berpangkat letnan dua, ia mengaku tidak pernah membayangkan TNI AL mengoperasikan kapal induk, apalagi dirinya yang dicalonkan memimpinnya.

“Tidak terbayang pada saat itu saya Letda, Angkatan Laut punya kapal induk,” tutur Fuad di Tanjung Priok, seperti dikutip Republika.

Dari Surabaya ke Taranto

Fuad tidak berangkat sendiri. Ia masuk dalam rombongan sekitar 100 personel TNI AL yang, menurut keterangannya kepada Antara, disaring lewat serangkaian seleksi ketat. Kompas.com menghitung Fuad sebagai bagian dari 100 orang itu, sedangkan Antara menulis Fuad bersama 100 personel lain.

Persiapan mereka memakan waktu sekitar tiga bulan. Tahap awal berlangsung kurang lebih sebulan di Komando Latihan Koarmada II, Surabaya, sebelum rombongan diberangkatkan ke Italia pada Juli 2026. Di pangkalan Angkatan Laut Italia di Taranto, mereka menjalani familiarisasi, yakni pengenalan kapal dan tata kerjanya, selama sekitar satu bulan.

Tahap terakhir adalah pelayaran pulang. Garibaldi bertolak dari Italia pada 24 Agustus 2026 dan merapat di Tanjung Priok pada Jumat pagi, sekitar 25 hari kemudian. Di atas kapal, personel Indonesia bekerja berdampingan dengan kurang lebih 300 pelaut Italia dalam pola awak gabungan. Fuad mengatakan prajuritnya bukan hanya belajar, melainkan ikut berjaga, memasak, dan bekerja harian di departemen masing-masing.

Ia mengakui ada hambatan, terutama bahasa dan penyesuaian dengan teknologi kapal. Namun, menurut dia, kendala itu justru mendekatkan kedua awak hingga terasa seperti keluarga, dengan tetap menghormati aturan dan tradisi angkatan laut masing-masing.

Melintasi Laut Merah

Dalam perjalanan, kapal melewati Laut Merah, Selat Bab el-Mandeb, dan Teluk Aden. Fuad menyebut tiga perairan itu masih menjadi perhatian keamanan maritim. Karena itu, kata dia kepada Antara, Garibaldi mendapat pengawalan dari kapal-kapal perang Eropa di bawah EUNAVFOR Aspides, misi keamanan maritim Uni Eropa yang biasa mengawal kapal niaga di kawasan itu.

Setiba di perairan Indonesia, kapal disambut dua kapal perang TNI AL, KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321. Fuad menyatakan siap menerima tugas apa pun dari negara. Prinsipnya, keberhasilan misi dan keselamatan awak ditempatkan di urutan pertama.

Mengapa ini penting

Indonesia belum pernah mengoperasikan kapal induk. Komandan pertamanya memimpin awak yang baru belajar mengoperasikan kapal jenis ini, sehingga cara Fuad dan timnya menyerap pengetahuan dari awak Italia ikut menentukan seberapa cepat kapal itu siap dipakai. Fuad mengatakan latihan akan berlanjut setelah serah terima untuk meningkatkan kesiapan kapal.

Bagi publik, penugasan ini memberi wajah pada kehadiran kapal induk pertama itu. Kepala Staf TNI AL Laksamana Muhammad Ali, dikutip Antara, menyatakan kapal masih akan dibenahi fisik dan mesinnya agar cocok dengan kebutuhan TNI AL, yang lebih banyak diarahkan ke operasi militer selain perang.

Angka kunci

  • 400 personel TNI AL akan mengawaki KRI Sriwijaya: 100 orang yang sudah berada di kapal ditambah 300 orang yang dilatih bertahap di Komando Latihan Koarmada I, Jakarta (Antara).
  • Sekitar 40 orang di antaranya prajurit Korps Wanita Angkatan Laut atau Kowal, menurut Fuad kepada Kompas.com.
  • 310 calon awak disebut dalam siaran pers Koarmada RI yang dikutip Antara pada 17 September; angka Fuad sehari kemudian adalah 300.
  • Sekitar 25 hari pelayaran dari Italia ke Jakarta, berangkat 24 Agustus 2026 (Kompas.com, Antara).
  • 2002: tahun Fuad lulus dari Akademi Angkatan Laut, Angkatan 48 (Kompas.com).

Apa selanjutnya

Serah terima dan pergantian bendera dijadwalkan berlangsung di Pelabuhan Tanjung Priok pada Kamis, 24 September 2026. KSAL menyebut tanggal itu masih bersifat kemungkinan. Republika melaporkan pelantikan komandan dan penamaan kapal akan dipimpin Presiden. Setelah peresmian, 300 personel tambahan bergabung dengan awak yang sudah berada di kapal.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.