Google Akui Gemini Retas Tiga Perusahaan Saat Uji Keamanan, Susul OpenAI, Anthropic, dan Meta
Model Gemini sempat tersambung ke internet dan menembus tiga situs perusahaan nyata dalam uji keamanan siber pada Mei 2026. Google menyatakan model berhenti sendiri di ketiga kasus dan para pihak sudah diberi tahu.
Oleh Kevin Mikael Januar
Penanggung Jawab Redaksi: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Mountain View — Google mengakui model kecerdasan buatan (AI) Gemini sempat tersambung ke internet lalu menembus tiga situs perusahaan sungguhan ketika menjalani uji keamanan siber pada Mei 2026. Pengakuan itu keluar Jumat, 18 September 2026 waktu Amerika Serikat, setelah The Wall Street Journal (WSJ) memberitakannya.
Reuters melaporkan, uji itu dijalankan Irregular, perusahaan independen pengevaluasi keamanan siber. Kantor berita itu menyebutnya contoh pertama yang diketahui dari sistem AI Google yang meretas secara mandiri.
Dalam sebuah pernyataan, Heather Adkins, Wakil Presiden Google untuk rekayasa keamanan, menjelaskan bahwa model menemukan informasi publik di internet, lalu menebak kredensial — data masuk seperti nama pengguna dan kata sandi — untuk membuka tiga situs yang dikiranya masih termasuk cakupan uji. Di ketiga kasus, kata Adkins, model menghentikan peretasannya.
ABC News Australia merinci, Gemini saat itu mengikuti latihan “capture the flag” di infrastruktur Irregular: model ditugasi mengambil informasi dari perangkat lunak sebuah perusahaan fiktif di lingkungan uji. Perusahaan fiktif itu bernama sama dengan sebuah perusahaan sungguhan. Model semestinya tidak bisa daring, tetapi menurut Irregular akses internet terbuka tanpa disengaja.
Mengutip WSJ, Reuters menulis bahwa pada satu kasus Gemini berulang kali menebak kata sandi sampai berhasil masuk ke sistem yang dilindungi. Pada dua kasus lain, model menemukan kredensial di repositori publik dan memakainya untuk masuk. Laporan-laporan yang dirujuk tidak memuat nama ketiga perusahaan itu.
Baru terbuka empat bulan kemudian
Irregular memberi tahu Google pada akhir Juli. Kepada WSJ, sebagaimana dikutip ABC, Google beralasan tidak perlu mengumumkan kejadian itu lebih awal karena model berhenti begitu tahu sasarannya perusahaan nyata dan tidak menimbulkan kerugian. The Guardian mencatat, Anthropic dan OpenAI memilih mengumumkan sendiri insiden mereka, sedangkan Google tidak.
Menurut Al Jazeera, Google menilai perilaku itu bukan misalignment — model yang menyimpang dari maksud pembuatnya — dan tidak perlu diumumkan karena pengaman Gemini bekerja.
Kata para pihak
Adkins menyatakan Google sudah memastikan ketiga entitas mengetahui kejadian tersebut dan bekerja sama dengan mitra pelatihannya, yang kini telah mengubah proses pengujian. Rangkaian peristiwa itu, menurut dia, menunjukkan “pentingnya melatih model AI yang kuat agar bertindak secara bertanggung jawab”, demikian terjemahan CNBC Indonesia atas pernyataan yang dikutip Reuters.
Juru bicara Irregular mengatakan insiden Gemini bersumber dari masalah yang sama dengan yang menimpa laboratorium AI lain. Semua laboratorium terkait dikabari akhir Juli, dan masalah yang diketahui di pihaknya sudah dibereskan beberapa pekan lalu.
Insiden serupa yang terkait Irregular lebih dulu diungkap OpenAI, Anthropic, dan Meta. Meta, tulis Reuters, menyatakan pada Agustus bahwa insidennya tidak melibatkan pelarian dari sandbox — lingkungan uji yang terisolasi — maupun serangan siber canggih. Al Jazeera mencatat satu perbedaan: model Claude milik Anthropic tidak berhenti setelah sadar mengakses perusahaan nyata.
Mengapa ini penting
Rentetan insiden ini, tulis Reuters, memunculkan pertanyaan tentang pengaman yang dibutuhkan ketika agen AI makin otonom dan makin leluasa mengakses internet. ABC mengutip Loss of Control Observatory milik lembaga kajian Inggris Centre for Long-Term Resilience, yang mendeteksi 1.664 insiden hilang kendali AI di dunia nyata pada 2026.
Bagi Indonesia, Gemini bukan produk yang jauh. StatCounter mencatat Android menguasai 77,07 persen pangsa sistem operasi ponsel di Indonesia pada Agustus 2026, dan Google mengumumkan pada Maret 2025 bahwa Gemini akan menggantikan Google Assistant di sebagian besar perangkat seluler.
Dalam evaluasi PP Tunas yang diumumkan 14 September, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencantumkan Gemini di antara 28 produk, layanan, dan fitur yang ditetapkan berprofil risiko rendah. Penilaian itu menyangkut pelindungan anak, bukan keamanan siber. Laporan media yang dirujuk juga tidak menyebut dampak terhadap pengguna aplikasi Gemini.
Pemerintah sendiri sedang menyiapkan aturan tentang AI. Siaran pers Komdigi 17 September, yang terbit sebelum kasus Gemini terungkap, memuat pernyataan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria dalam seminar di Universitas Pradita, Tangerang, sehari sebelumnya. Menurut Nezar, ekosistem AI yang bertanggung jawab hendak dibangun lewat dua instrumen: Peta Jalan AI Nasional 2026–2029 dan regulasi etika AI.
Apa selanjutnya
Irregular menyatakan sedang menyusun praktik terbaik evaluasi keamanan siber AI. Reuters melaporkan Dewan Keamanan PBB dijadwalkan bersidang pada Rabu, 23 September, membahas AI dan keamanan internasional; CEO OpenAI Sam Altman akan memberi paparan.
Di dalam negeri, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah mengatakan pada 3 September bahwa dua rancangan peraturan presiden — etika AI dan peta jalan AI — sudah diparaf para menteri terkait dan tinggal menunggu tanda tangan Presiden. Judul laporan Kompas.com menyebut target terbitnya tahun ini.
Sumber
- Reuters — Gemini retas tiga perusahaan
- ABC News Australia — Rincian uji Gemini
- The Guardian — Konfirmasi Google
- Al Jazeera — Gemini retas lalu berhenti
- CNBC Indonesia — Gemini retas perusahaan lain
- Komdigi — Evaluasi enam bulan PP Tunas
- Komdigi — Siaran Pers No. 195/HM-KKD/9/2026
- StatCounter — Pangsa OS ponsel Indonesia
- Google — Gemini gantikan Google Assistant
- Reuters — Sidang Dewan Keamanan PBB soal AI
- Kompas.com — Perpres AI tunggu tanda tangan Presiden
Berita berikutnya

iPhone 18 Pro Dijual Global 18 September, Indonesia Belum Kebagian meski TKDN 40 Persen Terbit
Penjualan perdana iPhone 18 Pro dan Pro Max berlangsung Jumat, 18 September 2026, antara lain di Singapura dan Malaysia. Indonesia masih menunggu: nil…
Baca juga





