Kabar18.com

Minggu, 20 September 2026

Hasan Abdullah Sahal, Putra Pendiri yang 41 Tahun Memimpin Gontor

Badan Wakaf menetapkan tiga pimpinan Gontor pada 1985; hanya Hasan, kini 79 tahun, yang masih menjabat. Di depan Presiden Prabowo, 19 September 2026, ia mempersilakan dirinya didemo bila hidupnya melebihi santri.

Oleh

Penanggung Jawab Redaksi: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip 2014: Hasan Abdullah Sahal, menurut keterangan pengunggah di Wikimedia Commons, difoto di Makkah saat umrah pada Januari–Februari 2014. (Foto: Abu Za…
Foto arsip 2014: Hasan Abdullah Sahal, menurut keterangan pengunggah di Wikimedia Commons, difoto di Makkah saat umrah pada Januari–Februari 2014. (Foto: Abu Zayyan El Rohily / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0)

PonorogoHasan Abdullah Sahal, 79 tahun, mempersilakan dirinya didemo bila makan, pakaian, kendaraan, atau rumahnya melebihi milik santri. Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor itu mengucapkannya di depan Presiden Prabowo Subianto pada resepsi 100 tahun pondok, Sabtu, 19 September 2026.

Ia mempersilakan Presiden menyaksikan sendiri, lalu mengulang kalimatnya: bila hidupnya lebih daripada santri, ia “boleh diprotes, boleh dikritik, boleh didemo”. Sambutan di Balai Pertemuan Pondok Modern itu dikutip IDN Times.

Yang berbicara itu putra pendiri. Ia memimpin Gontor sejak 1985, 41 dari 100 tahun usia pondok. Rangkaian peringatan dijadwalkan ditutup pada Minggu, 20 September. Hari itu Gontor genap seabad dalam kalender Masehi.

Kepada Presiden ia berbicara soal saling percaya. “Insya Allah selama Pak Presiden husnudzon kepada saya, dengan Gontor, insya Allah Gontor husnudzon kepada Bapak Presiden,” katanya, seperti dikutip TIMES Indonesia. Husnudzon berarti prasangka baik.

Ia juga bergurau di depan tamunya. Banyak orang sekarang mencari muka, katanya: yang tak punya ijazah mencari ijazah, yang tak punya jabatan mencari jabatan. Ketika hadirin bertepuk tangan, ia menegur bahwa tepuk tangan itu tidak pada waktunya, tulis IDN Times dalam laporan lain dan detikJatim.

Resepsi itu ia sebut peringatan, bukan perayaan; seabad perjalanan pondok, katanya, tidak pernah sepi dari kesulitan. Para pendiri, menurut ucapannya yang dicatat siaran pers Presiden, mewakafkan gagasan, nilai, sistem, lembaga, dan cinta mereka kepada bangsa. Seusai sambutan ia menyerahkan buku “Gontor untuk Indonesia”, dokumentasi kiprah alumni, kepada Prabowo.

Berusia 11 tahun saat pondok diwakafkan

Hasan lahir di Desa Gontor pada 24 Mei 1947 sebagai anak keenam Ahmad Sahal, menurut riwayat resminya di laman pondok. Ahmad Sahal dan dua adiknya, Zainuddin Fananie dan Imam Zarkasyi, mendirikan pondok itu pada 20 September 1926. Ketiganya dikenal sebagai Trimurti.

Ia berusia 11 tahun ketika ayah dan dua pamannya mewakafkan pondok kepada umat Islam pada 12 Oktober 1958. Penerima amanatnya 15 orang, yang kemudian menjadi Badan Wakaf. Lembaga itu organ tertinggi Gontor. Pimpinan pondok adalah mandataris yang dipilih dalam sidangnya setiap 5 tahun.

Hasan menamatkan sekolah dasar di Gontor pada 1959 dan sudah diterima di Kulliyyatu-l-Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) 3 bulan sebelum lulus. KMI adalah sekolah guru Islam setingkat menengah dengan masa belajar 6 tahun, dibuka pada 19 Desember 1936. Ilmu agama dan pengetahuan umum diajarkan seimbang di sana, menurut ikhtisar sejarah pondok.

Lulus KMI pada 1965, ia kuliah di Fakultas Ushuluddin perguruan tinggi pondok sambil mengajar di KMI selama 2,5 tahun. Pada 1967 ia mendapat kesempatan melanjutkan studi di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah.

Satu nama di empat periode pimpinan

Hasan tercatat sebagai dosen perguruan tinggi pondok sejak 1977, tahun ayahnya wafat. Pada April 1985 pendiri terakhir, Imam Zarkasyi, menyusul. Sidang pertama Badan Wakaf sepeninggal Trimurti menetapkan tiga pimpinan: Shoiman Luqmanul Hakim, Abdullah Syukri Zarkasyi, dan Hasan, yang usianya belum 40 tahun.

Dua pesantren ia dirikan di luar Gontor. Pondok Pesantren Putri Al-Mawaddah berdiri di Coper, Jetis, Ponorogo, pada 1989; Pondok Tahfidz Al-Muqoddasah di Nglumpang, Mlarak, pada 1992. Pada 1992 pula ia mengambil spesialisasi hadis di Universitas Al-Azhar, Mesir.

Siaran pers pondok tertanggal 3 Januari 2026 mencatat lima periode kepemimpinan. Periode pertama milik Trimurti, dan nama Hasan ada di empat periode sesudahnya. Menurut daftar pimpinan di laman pondok, Shoiman menjabat sampai 1999, Imam Badri 1999–2006, Syamsul Hadi Abdan 2006–2020, dan Abdullah Syukri Zarkasyi sampai 2020. Dari tiga nama penetapan 1985, hanya Hasan yang masih menjabat.

Rekannya pada periode kelima, Amal Fathullah Zarkasyi, wafat pada 3 Januari 2026. Siaran pers Presiden tentang resepsi menyebut dua pimpinan pondok yang menyambut Prabowo: Hasan dan Muhammad Akrim Mariyat.

Siaran pers itu tidak menyebut apakah Badan Wakaf sudah menetapkan pimpinan ketiga. Laman Badan Wakaf juga tidak mencantumkan jadwal sidang lima tahunan berikutnya.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.