Jelang Hari Pariwisata 27 September, Teknologi Tetap Perlu Menopang Pelaku Lokal
Hari Pariwisata Dunia jatuh pada Minggu, 27 September 2026. Agenda digital tahun ini menyoroti peluang bagi usaha kecil, sementara manfaat perjalanan tetap bergantung pada orang di destinasi.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Hari Pariwisata Dunia pada 27 September 2026 tinggal sepekan lagi. Dalam agenda tahun ini, teknologi digital dan kecerdasan buatan dibicarakan bersama satu pertanyaan: bagaimana manfaatnya menjangkau pelaku wisata yang lebih kecil?
Menteri Pariwisata Afrika Selatan Patricia de Lille, dalam pidato peluncuran Tourism Month pada 13 Agustus, menyebut agenda digital dan AI sebagai tema global peringatan 2026. Ia menguraikan kemungkinan teknologi membantu wisatawan mencari destinasi, menyusun perjalanan, membandingkan pengalaman, dan memperoleh informasi.
De Lille juga menekankan bahwa perubahan digital perlu membuka kesempatan bagi usaha kecil, bukan hanya perusahaan besar. Contoh yang ia kemukakan mencakup operator wisata di daerah serta restoran yang ingin dikenal di luar lingkungan terdekatnya. Pernyataan ini merupakan arah kebijakan yang disampaikan pejabat Afrika Selatan, bukan ukuran keberhasilan yang sudah terbukti bagi setiap usaha.
Kalender Time and Date memastikan 27 September tahun ini jatuh pada Minggu. Peringatan tersebut pertama kali berlangsung pada 1980, setelah keputusan organisasi pariwisata dunia pada 1979. Tanggalnya merujuk pada pengesahan statuta organisasi itu pada 27 September 1970.
Time and Date juga membedakan peringatan PBB ini dari hari libur umum. Kompetisi foto, penghargaan, atau penawaran khusus merupakan contoh kegiatan yang pernah menyertai peringatan. Namun, keberadaan Hari Pariwisata Dunia tidak otomatis berarti suatu destinasi memberikan tiket gratis atau diskon; ketentuan masing-masing penyelenggara tetap perlu diperiksa.
Bagi pembaca Indonesia, dua hal tersebut dapat dipakai sebagai konteks merencanakan perjalanan: pastikan informasi layanan benar-benar tersedia, lalu kenali siapa yang menyediakan pengalaman di tempat tujuan. Dalam pidatonya, de Lille mengingatkan bahwa pemandu, juru masak, dan komunitas tetap hadir di balik pengalaman wisata. Teknologi membantu mempertemukan wisatawan dengan mereka, sementara pelayanan berlangsung melalui orang-orang di destinasi.
Foto arsip: Mujiyono SPt (Mjnspt), CC BY-SA4.0. Digunakan sebagai ilustrasi; bukan dokumentasi peristiwa 2026.
Sumber
Berita berikutnya

Angklung Meramaikan Festival Kota Lama Semarang dengan Peserta Lintas Usia
Pagelaran 1000 Angklung Nusantara digelar pada 19 September dalam Festival Kota Lama Semarang. Angklung juga memiliki tempat dalam warisan budaya UNES…

