Mengapa Kredibilitas APBN Penting bagi Ketahanan Fiskal Indonesia?
APBN yang kredibel diukur dari kemampuan menjaga defisit, menghimpun pendapatan, dan membiayai belanja. Data hingga September 2026 menunjukkan posisi fiskal dan cadangan devisa yang perlu dibaca bersama.
Oleh Mukmin John
· 2 menit baca
Ketahanan fiskal Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besar kecilnya defisit, tetapi juga oleh kemampuan negara menghimpun pendapatan dan mengarahkan belanja. Hingga September 2026, defisit APBN tercatat Rp319 triliun atau 1,24 persen terhadap PDB, sementara pendapatan mencapai Rp2.341,5 triliun dan belanja Rp2.660,5 triliun, menurut Kementerian Keuangan, 2026.
Apa yang dimaksud APBN kredibel?
APBN kredibel berarti rencana pendapatan, belanja, defisit, dan pembiayaan dapat dijalankan secara terukur. Ukurannya bukan sekadar realisasi belanja, melainkan juga kemampuan menjaga defisit sesuai desain anggaran dan membiayai prioritas negara.
Kementerian Keuangan mencatat defisit hingga September 2026 sebesar 1,24 persen terhadap PDB. Angka itu muncul dari selisih pendapatan negara Rp2.341,5 triliun dan belanja negara Rp2.660,5 triliun, menurut Kementerian Keuangan, 2026.
Dari mana pendapatan negara berasal?
Penerimaan pajak menjadi sumber terbesar. Hingga September 2026, penerimaan pajak mencapai Rp1.607,6 triliun dan tumbuh 24,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menurut Kementerian Keuangan, 2026.
Pendapatan lain berasal dari kepabeanan dan cukai sebesar Rp240,1 triliun serta penerimaan negara bukan pajak Rp492,3 triliun. Keduanya masing-masing tumbuh 8,5 persen dan 41,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menurut Kementerian Keuangan, 2026.
Ke mana belanja negara diarahkan?
Belanja pemerintah pusat hingga September 2026 mencapai Rp2.061,3 triliun, menurut Kementerian Keuangan, 2026. Pos ini mencakup belanja kementerian dan lembaga serta belanja non-kementerian dan lembaga.
Dalam postur APBN 2026, belanja negara direncanakan Rp3.786,5 triliun. Belanja kementerian dan lembaga dialokasikan Rp1.498,3 triliun, sedangkan belanja non-kementerian dan lembaga Rp1.638,2 triliun, menurut Kementerian Keuangan, 2026.
Apakah defisit berarti APBN bermasalah?
Defisit berarti belanja negara lebih besar daripada pendapatan dan harus ditutup melalui pembiayaan. Karena itu, defisit perlu dibaca bersama rasio terhadap PDB, perkembangan penerimaan, realisasi belanja, dan kemampuan pemerintah memperoleh pembiayaan.
Kementerian Keuangan memproyeksikan defisit APBN 2026 sebesar Rp734,3 triliun atau 2,85 persen terhadap PDB. Proyeksi tersebut disertai pembiayaan anggaran sebesar Rp734,3 triliun, menurut Kementerian Keuangan, 2026.
Mengapa cadangan devisa ikut penting?
Ketahanan fiskal berkaitan dengan kondisi eksternal karena pemerintah dan perekonomian membutuhkan devisa untuk membayar impor serta kewajiban luar negeri. Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada akhir Desember 2025 sebesar 156,5 miliar dolar AS.
Posisi itu setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor, menurut Bank Indonesia, 2026.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Analisis
Mengapa Ketahanan Eksternal Indonesia Tetap Terjaga pada 2025?
Indonesia menutup 2025 dengan defisit transaksi berjalan yang rendah dan cadangan devisa meningkat. Angka ini menunjukkan daya tahan eksternal, tetapi…
Terbaru di Analisis

Berita utama hari ini

Baca juga





