Mengapa Ketahanan Eksternal Indonesia Tetap Terjaga pada 2025?
Indonesia menutup 2025 dengan defisit transaksi berjalan yang rendah dan cadangan devisa meningkat. Angka ini menunjukkan daya tahan eksternal, tetapi belum berarti tekanan dari jasa, pendapatan, dan arus modal hilang.
Oleh Mukmin John
· 2 menit baca
Ketahanan eksternal Indonesia pada 2025 ditopang oleh surplus neraca perdagangan dan cadangan devisa yang meningkat, meski transaksi berjalan masih defisit. Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan sebesar 1,5 miliar dolar AS atau 0,1 persen dari PDB sepanjang 2025, sementara cadangan devisa mencapai 156,5 miliar dolar AS pada akhir Desember 2025.
Apa arti defisit transaksi berjalan 1,5 miliar dolar AS?
Transaksi berjalan mencatat arus perdagangan barang, jasa, pendapatan primer, dan pendapatan sekunder dengan negara lain. Menurut Bank Indonesia dalam rilis Neraca Pembayaran Indonesia, defisit 2025 sebesar 1,5 miliar dolar AS atau 0,1 persen dari PDB lebih rendah daripada defisit 8,6 miliar dolar AS atau 0,6 persen dari PDB pada 2024.
Angka itu berarti pembayaran Indonesia kepada pihak luar negeri dalam komponen transaksi berjalan masih sedikit lebih besar daripada penerimaannya. Defisit tersebut disebut terkendali karena nilainya rendah dibandingkan ukuran ekonomi nasional.
Mengapa neraca perdagangan membantu menahan defisit?
Bank Indonesia menyatakan surplus neraca perdagangan barang meningkat seiring kinerja ekspor, khususnya produk manufaktur. Namun, neraca jasa dan pendapatan primer tetap mengalami defisit sehingga surplus barang belum sepenuhnya menghapus tekanan dari transaksi lainnya.
Bank Indonesia juga mencatat pendapatan sekunder meningkat, antara lain dipengaruhi kenaikan remitansi pekerja migran Indonesia. Pada saat yang sama, defisit jasa bertambah karena jasa telekomunikasi, sejalan dengan peningkatan kinerja sektor informasi dan komunikasi.
Seberapa kuat cadangan devisa Indonesia?
Cadangan devisa Indonesia meningkat dari 155,7 miliar dolar AS pada akhir Desember 2024 menjadi 156,5 miliar dolar AS pada akhir Desember 2025, menurut Bank Indonesia. Posisi 156,5 miliar dolar AS itu setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Bank Indonesia menyebut posisi tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Cadangan devisa berfungsi sebagai penyangga ketika kebutuhan pembayaran luar negeri meningkat dan ketika bank sentral melakukan stabilisasi nilai tukar.
Apakah kondisi ini berarti sektor eksternal sudah tanpa risiko?
Tidak. Bank Indonesia mencatat transaksi berjalan pada triwulan IV 2025 kembali defisit 2,5 miliar dolar AS atau 0,7 persen dari PDB, setelah pada triwulan III 2025 mencatat surplus 4,0 miliar dolar AS atau 1,1 persen dari PDB.
Perubahan antartriwulan menunjukkan bahwa kinerja eksternal tetap dipengaruhi ekspor, impor, harga komoditas, pembayaran jasa, pendapatan investasi, serta arus modal. Karena itu, cadangan devisa yang tinggi memperkuat daya tahan, tetapi tidak menghapus kebutuhan menjaga ekspor dan mengendalikan ketergantungan pada pembiayaan eksternal.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Ekonomi & Keuangan
LPEM UI Proyeksikan Inflasi Oktober 2026 hingga 3,31 Persen
LPEM Universitas Indonesia memperkirakan inflasi Oktober 2026 mencapai 3,25-3,31 persen secara tahunan. Kenaikan harga cabai menjadi salah satu pendor…
Terbaru di Analisis

Berita utama hari ini

Baca juga





