Kabar18.com

Minggu, 18 Oktober 2026

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Belum Hapus Paradoks

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen pada semester I 2026, tetapi laporan Tempo menilai capaian makro tersebut belum otomatis mencerminkan kondisi seluruh kelompok masyarakat.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Pemandangan gedung Hotel Kempinski di Jakarta dengan pejalan kaki dan pesepeda di area jalan.
Ilustrasi: Pemandangan gedung Hotel Kempinski di Jakarta dengan pejalan kaki dan pesepeda di area jalan. · Foto: N Sopyan / Pexels

Jakarta — Perekonomian Indonesia tumbuh 5,45 persen pada semester I 2026, sementara konsumsi rumah tangga meningkat 5,28 persen dan inflasi tahunan September mencapai 3,28 persen, menurut laporan Tempo pada 18 Oktober 2026.

Angka tersebut menunjukkan kinerja makroekonomi yang tetap kuat. Namun, laporan Tempo menyoroti adanya paradoks karena capaian pertumbuhan dan konsumsi itu belum otomatis menggambarkan kondisi seluruh kelompok masyarakat. Perubahan indikator nasional dapat berjalan bersamaan dengan tekanan yang dirasakan rumah tangga.

Data pertumbuhan semester I 2026 mencakup periode Januari-Juni. Kontan, melalui laporan infografiknya, juga menyebut ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen dibandingkan semester I 2025 dan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,28 persen.

Mengapa paradoks ekonomi penting bagi pembaca

Perbedaan antara indikator makro dan pengalaman rumah tangga membantu menempatkan angka pertumbuhan secara lebih utuh. Pertumbuhan ekonomi menggambarkan kinerja agregat, sedangkan konsumsi, harga, dan daya beli dapat dirasakan berbeda oleh setiap kelompok masyarakat. Karena itu, angka 5,45 persen tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh rumah tangga mengalami perbaikan kondisi ekonomi.

Inflasi tahunan 3,28 persen juga merupakan ukuran perubahan harga secara umum dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut tidak berarti semua barang dan kebutuhan rumah tangga mengalami kenaikan dengan besaran yang sama. Perbedaan pola belanja, pendapatan, dan akses terhadap barang dapat membuat dampaknya tidak seragam.

Laporan yang tersedia tidak menyebutkan kebijakan lanjutan atau langkah tertentu yang akan dilakukan setelah temuan tersebut. Informasi yang disampaikan berfokus pada kesenjangan antara capaian makroekonomi dan kondisi yang dialami sebagian masyarakat.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Analisis

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.