Pakar: Kecerdasan Buatan Mempercepat Serangan Siber ke Berbagai Sektor
Pakar keamanan siber menilai kecerdasan buatan mempercepat pembobolan, menurunkan hambatan teknis, dan memperluas sasaran ke perusahaan, rumah sakit, serta kantor pemerintahan.
Oleh Kevin Mikael Januar
· 2 menit baca
Jakarta — Pakar keamanan siber memperingatkan bahwa kecerdasan buatan mempercepat serangan siber dan memperluas sasaran ke berbagai sektor pada 30 Oktober 2026. Ancaman itu mencakup rumah sakit, perusahaan, dan kantor pemerintahan daerah.
Mengapa ini penting: Masyarakat, perusahaan, rumah sakit, dan kantor pemerintahan perlu menghadapi serangan yang dapat dibuat lebih cepat, murah, dan meyakinkan oleh AI.
Pakar keamanan siber Howon menyatakan AI dapat meniru suara atau wajah dalam hitungan menit, menemukan celah keamanan, dan menulis kode serangan. Kemampuan tersebut membuat serangan lebih murah, cepat, dan dapat dijalankan dalam skala lebih besar.
AI mempermudah serangan
Menurut Howon, pelaku dapat menggunakan AI untuk membuat email palsu yang meyakinkan, melakukan panggilan dengan suara yang menyerupai atasan, serta mencari celah keamanan secara otomatis. Karena itu, ancaman tidak lagi terbatas pada perbankan atau lembaga pemerintah.
Laporan CNBC Indonesia yang mengutip Reuters menyebut seorang peretas berbahasa Mandarin yang diduga berasal dari Cina menggunakan agen AI untuk mencoba menembus lebih dari 1.200 situs web hingga pertengahan Oktober 2026. Serangan itu menyasar lebih dari 100 situs perusahaan di sejumlah negara.
Pelaku disebut hanya memberikan instruksi singkat dalam bahasa Mandarin. Agen AI kemudian menjalankan upaya pembobolan terhadap berbagai target, termasuk perusahaan di Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Jepang.
Ancaman terhadap identitas
Kementerian Komunikasi dan Digital juga mengingatkan bahwa AI membuat penipuan digital semakin sulit dikenali. Staf Ahli Menteri Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya Kementerian Komunikasi dan Digital Raden Wijaya Kusumawardhana mengatakan ancaman kini menyasar identitas, informasi, dan kepercayaan manusia.
Dalam acara National Cybersecurity Connect 2026 di Jakarta Selatan pada 28 Oktober 2026, Wijaya menyebut pelaku dapat membuat deepfake, menyamarkan identitas, serta menyusun instruksi palsu yang tampak berasal dari pimpinan atau anggota keluarga.
Di sisi lain, AI juga dapat digunakan untuk memperkuat pertahanan siber, antara lain dengan membantu mendeteksi ancaman lebih cepat. Kementerian Komunikasi dan Digital mendorong penguatan literasi keamanan digital agar masyarakat mampu memverifikasi identitas dan mengenali informasi mencurigakan.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Analisis
Kemenkum Dukung Perlindungan Hak Cipta Jurnalistik, Perlindungan atas Karya Jurnalis, Baik Tulisan dan Foto
Kementerian Hukum mendukung penguatan hak cipta karya jurnalistik di Surabaya pada 29 Oktober 2026. Revisi aturan membahas hak ekonomi media, kompensa…
Terbaru di Teknologi

Berita utama hari ini

Baca juga




