Kabar18.com

Minggu, 18 Oktober 2026

Rupiah Ditutup Rp18.000 di Jakarta, BI Perkuat Intervensi

Rupiah ditutup melemah 0,45 persen ke Rp18.000 per dolar AS pada 16 Oktober 2026. Tekanan muncul setelah konsultasi MSCI, sementara cadangan devisa mencapai US$146,3 miliar.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Tumpukan uang kertas euro pecahan 200 dan 50 di atas meja.
Ilustrasi: Tumpukan uang kertas euro pecahan 200 dan 50 di atas meja. · Foto: Jakub Zerdzicki / Pexels

Jakarta — Rupiah ditutup melemah 0,45 persen ke Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, sementara cadangan devisa Indonesia tercatat US$146,3 miliar pada akhir September 2026.

Data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia menunjukkan rupiah sempat melemah hingga Rp18.070 per dolar AS sebelum berakhir di level Rp18.000. Pada awal perdagangan, rupiah dibuka melemah 0,33 persen di Rp17.980 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah terutama dikaitkan dengan pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai konsultasi atas proposal perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia. MSCI mengusulkan perubahan status dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Rencana tersebut belum menjadi keputusan final, tetapi meningkatkan kekhawatiran investor terhadap prospek aliran dana asing di pasar keuangan domestik.

Bank Indonesia (BI) menyatakan kondisi rupiah secara umum masih terjaga dan berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental serta memastikan mekanisme pasar berjalan baik. BI juga menjaga kecukupan likuiditas dan mengelola struktur suku bunga di pasar uang.

Cadangan devisa menjadi penyangga stabilitas rupiah

Cadangan devisa Indonesia sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026 disebut tetap menopang ketahanan sektor eksternal. Untuk meredam tekanan nilai tukar, BI melakukan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

BI juga berkoordinasi dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga likuiditas, mengatur struktur suku bunga, dan mempertahankan pergerakan rupiah agar tetap sesuai nilai fundamentalnya.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Ekonomi & Keuangan

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.