Kabar18.com

Jumat, 30 Oktober 2026

Trump Terima Opsi Serangan Iran di Gedung Putih

Donald Trump menerima paparan opsi militer terhadap Iran dari Kepala CENTCOM Brad Cooper di Gedung Putih. Presiden AS belum memutuskan operasi baru.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Fasilitas tangki industri dan struktur baja dengan asap putih membubung ke langit biru.
Ilustrasi: Fasilitas tangki industri dan struktur baja dengan asap putih membubung ke langit biru. · Foto: Brett Sayles / Pexels

Washington — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerima paparan opsi militer terhadap Iran dari Kepala Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) Admiral Brad Cooper dalam pertemuan di Gedung Putih pada Kamis, 29 Oktober 2026.

Laporan yang dikutip sejumlah media menyebut pertemuan itu berlangsung ketika pemerintahan Trump mempertimbangkan kemungkinan melanjutkan operasi tempur besar terhadap Iran. Menteri Perang Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, serta sejumlah anggota kabinet turut menghadiri pertemuan tersebut.

Trump belum menyatakan keputusan akhir untuk memulai kembali serangan berskala besar. Pembahasan itu juga berlangsung bersamaan dengan upaya diplomatik Amerika Serikat untuk membuka kembali perundingan dengan Teheran.

Militer Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir memperkuat pertahanan udara, amunisi, dan pasokan di Timur Tengah. Sejumlah personel juga dipindahkan dari pangkalan yang dinilai rentan terhadap kemungkinan pembalasan Iran. Angkatan Darat Amerika Serikat turut memindahkan baterai rudal Patriot tambahan ke Israel.

Opsi serangan Iran berisiko bagi energi dan ekonomi Indonesia

Perkembangan ini relevan bagi pembaca Indonesia karena eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran dapat meningkatkan ketidakpastian keamanan di Timur Tengah dan mengganggu pasar energi global. Kenaikan risiko konflik berpotensi memengaruhi harga minyak, biaya pengangkutan, serta tekanan terhadap perekonomian negara yang bergantung pada energi impor.

Iran telah memperingatkan bahwa serangan baru Amerika Serikat dapat memicu serangan terhadap fasilitas Amerika Serikat, personel militernya, dan sasaran di negara-negara Teluk yang menjadi sekutunya. Situasi itu menambah risiko gangguan terhadap jalur energi dan perdagangan di kawasan.

Media yang mengutip laporan The Wall Street Journal menyebut pertemuan Rabu di Gedung Putih sebelumnya juga melibatkan Wakil Presiden JD Vance dan pejabat militer senior. Namun, waktu serta cakupan operasi baru belum diputuskan secara resmi.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Internasional

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.