Kabar18.com

Sabtu, 19 September 2026

Untuk pertama kali, 28 peserta Tuli tampil di Tartil Al-Qur'an Isyarat MTQ Nasional XXXI

Kemenag menetapkan enam peserta terbaik ekshibisi Tartil Al-Qur'an Isyarat, nomor baru di MTQ Nasional XXXI Semarang yang diikuti 28 peserta dari 14 komunitas Tuli muslim di sembilan provinsi.

Oleh

Penanggung Jawab Redaksi: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: pelataran Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang, kota tuan rumah MTQ Nasional XXXI 2026, dengan payung-payung raksasa dalam posisi tertutup. (Foto: Za…
Ilustrasi: pelataran Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang, kota tuan rumah MTQ Nasional XXXI 2026, dengan payung-payung raksasa dalam posisi tertutup. (Foto: Zanaven / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0)

Semarang — Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional XXXI di Semarang, Jawa Tengah, untuk pertama kalinya menggelar ekshibisi Tartil Al-Qur'an Isyarat bagi penyandang Tuli. Sebanyak 28 peserta tampil pada Selasa, 15 September 2026; dua hari kemudian Kementerian Agama mengumumkan enam peserta terbaik.

Mereka mewakili 14 komunitas Tuli muslim di sembilan provinsi: DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Jambi. Kompas TV melaporkan lomba berlangsung di MG Setos Hotel Semarang dengan dewan hakim dari unsur Tuli dan non-Tuli. Asosiasi Tuli Muslim Indonesia (ATMI) menjadi pelaksana teknis lomba.

Dua metode dilombakan. Ketua Dewan Hakim Rama Syahti Al Islamabad menjelaskan, Kitabah memakai isyarat yang mengikuti tulisan mushaf, sedangkan Tilawah bertumpu pada sistem isyarat yang lebih menimbang cara ayat dibaca. Hakim menilai ketepatan isyarat huruf hijaiyah, gerakan harakat dan tanda baca, serta adab.

Di metode Kitabah, nilai tertinggi dicatat Muhammad Azka Rinaldy dari DKI Jakarta (97,33), diikuti Azaroby Dwi Anggoro dari Banten (96,67) dan Aqilah Kaila Zahra dari Jawa Barat (96,33). Tiga teratas metode Tilawah seluruhnya dari Jawa Barat: Muhammad Rifqi Abdul Aziz (98,67), Adila Latifani Amrullah (97,67), dan Bintang Fahrurrozak (96,67). Menurut Kemenag, hasil itu tertuang dalam keputusan dewan hakim tertanggal 15 September yang bersifat final.

Panggung MTQ tahun ini juga diisi peserta tunanetra. Kanwil Kemenag Jawa Tengah memprofilkan Baridah Rohmah, peserta Tilawah Tunanetra Putri yang bercita-cita menjadi qariah internasional. Kompas.com menulis tentang Daffa Hadaya, 14 tahun, kelahiran Bukittinggi, yang tunanetra sejak lahir dan hafal 30 juz. Ia mewakili Sumatera Barat di cabang hafalan 20 juz dan memilih golongan umum, bukan kategori khusus tunanetra.

Mengapa ini penting

Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag Muchlis M. Hanafi menegaskan, label ekshibisi tidak membuat nomor ini sekadar tontonan tambahan. Ia menyebutnya masa uji: nomor ini diperkenalkan, dicoba, lalu dievaluasi sebelum dipertimbangkan menjadi cabang resmi. "Kita tidak hanya ingin mencari juara," kata Muchlis. Yang ikut diuji, menurut dia, mulai dari pembinaan di daerah dan kesiapan peserta sampai instrumen penilaian, kapasitas hakim, dan fasilitas aksesibilitas.

Jalan menuju panggung itu dimulai pada 2020, ketika sejumlah komunitas Tuli muslim meminta standar bersama untuk membaca Al-Qur'an dengan bahasa isyarat. Permintaan itu digarap lewat lokakarya dan penelitian bersama komunitas Tuli, guru, praktisi bahasa isyarat, akademisi, dan pentashih (pemeriksa kesahihan) mushaf. Hasilnya, kata Muchlis, berupa pedoman membaca, panduan belajar, serta mushaf isyarat versi cetak dan digital. Payung hukumnya terbit lewat Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 889 Tahun 2022, yang memasukkan Mushaf Al-Qur'an Isyarat sebagai varian baru Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia.

Angka kunci

  • 28 peserta dari 14 komunitas Tuli muslim di sembilan provinsi mengikuti ekshibisi perdana ini (Kemenag).
  • 98,67 adalah nilai tertinggi, dicatat pada metode Tilawah; nilai tertinggi Kitabah 97,33 (Kemenag).
  • Pelatihan pengajar Al-Qur'an Isyarat yang didukung Baznas sepanjang 2024–2025 menjangkau 71 titik di 55 kabupaten/kota, dengan lebih dari 2.200 peserta (Kemenag, Antara).
  • 38 kafilah provinsi mengikuti MTQ Nasional XXXI, yang berlangsung di Semarang sejak 11 September 2026 (Kompas.com).

Kata para pihak

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Abu Rokhmad, yang juga Ketua Umum Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ), menyebut ekshibisi ini tradisi baru MTQ, sebuah "sunnah hasanah" atau kebiasaan baik. Pesannya saat membuka acara, Selasa (15/9):

"Karena itu, tidak boleh ada seorang pun yang kehilangan kesempatan mempelajari Al-Qur'an karena kondisi fisik, sosial ekonomi, ataupun geografis."

Rama melihat semangat itu sejak lomba dimulai. "Ini adalah MTQ Nasional pertama yang melibatkan teman tuli, dan tentunya kami lihat peserta sangat bersemangat, pendamping pun juga bersemangat," ujarnya, dikutip laman Kemenag.

Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas Deka Kurniawan menilai ekshibisi ini wujud pemenuhan hak yang diamanatkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Ia berharap nomor ini naik kelas menjadi cabang resmi, dan meminta pemahaman atas isi Al-Qur'an ikut digarap, bukan hanya kemampuan membaca.

Apa selanjutnya

Kemenag menyatakan evaluasi panitia, masukan komunitas, pengalaman peserta, dan catatan dewan hakim akan dipakai untuk menyempurnakan Tartil Al-Qur'an Isyarat pada MTQ berikutnya. Menurut Abu Rokhmad, Kemenag membuka kemungkinan cabang ini terus dikembangkan; keputusan menjadikannya cabang tetap belum diumumkan.

MTQ Nasional XXXI dijadwalkan ditutup Sabtu (19/9) di kawasan Simpang Lima, Semarang.

Sumber

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.