IHSG 21 September Diproyeksikan Bergerak Terbatas dengan Bias Melemah
Sejumlah sekuritas memproyeksikan IHSG pada perdagangan Senin, 21 September 2026 bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah, namun masih menyimpan peluang penguatan selama indeks mampu bertahan di atas area support teknikal yang…
Oleh Pandi Muktar
Penanggung Jawab Redaksi: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin, 21 September 2026 diproyeksikan bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah, namun masih menyimpan peluang penguatan selama mampu bertahan di atas area support kunci.
Menurut riset PT MNC Sekuritas yang dikutip sejumlah media, IHSG pada skenario terburuk diperkirakan masih berada pada bagian dari wave iv dari wave (c), sehingga indeks rawan kembali menguji area 6.290–6.370. Selama IHSG mampu berada di atas 6.370, analis menilai masih terdapat peluang penguatan menuju kisaran 6.541–6.581 dengan level support di 6.279 dan 6.201 serta resistance di 6.585 dan 6.633.
Riset harian yang dirangkum media menempatkan strategi buy on weakness pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, antara lain emiten pelayaran, farmasi, dan telekomunikasi. Investor juga disarankan memanfaatkan momentum koreksi terbatas untuk melakukan trading buy pada saham perbankan besar, dengan tetap mencermati kedekatan indeks terhadap level support teknikal.
Sementara itu, riset Pilarmas Investindo Sekuritas yang dimuat media lain memperkirakan IHSG berpotensi melemah terbatas dengan level support dan resistance di kisaran 6.400–6.535. Analis Pilarmas menilai tekanan jual yang terjadi belakangan ini membuat ruang penguatan indeks menjadi sempit, sehingga pergerakan berpeluang didominasi pola konsolidasi pada rentang tersebut.
Praktisi pasar modal lain yang dikutip media ekonomi memproyeksikan IHSG pada perdagangan Senin akan bergerak sideways dalam rentang 6.400–6.512. Proyeksi ini sejalan dengan pandangan bahwa indeks tengah memasuki fase konsolidasi setelah penguatan beberapa bulan terakhir, dengan ruang kenaikan yang dinilai semakin terbatas.
Sejumlah analis juga menyoroti masih kuatnya pengaruh sentimen global terhadap pergerakan IHSG. Agenda kebijakan bank sentral Amerika Serikat melalui Federal Open Market Committee (FOMC) dan proses rebalancing indeks global seperti FTSE Russell disebut berpotensi meningkatkan volatilitas pasar. Dalam situasi tersebut, pelaku pasar diimbau mencermati aliran dana asing dan pergerakan saham yang sensitif terhadap perubahan bobot indeks.
Selain faktor global, ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Bank Indonesia menjadi salah satu variabel yang diperhatikan investor. Analis menilai ruang penyesuaian suku bunga acuan ke depan akan mempengaruhi minat terhadap aset berisiko, termasuk saham. Dengan kombinasi faktor eksternal dan domestik itu, pergerakan IHSG pada awal pekan diperkirakan tetap selektif, dengan peluang penguatan yang terbuka namun terbatas.
Di tengah kondisi teknikal yang masih menunjukkan tekanan jual, sejumlah rumah riset menyarankan investor untuk lebih disiplin dalam menerapkan manajemen risiko. Penerapan batas kerugian (cut loss) di sekitar area support dan pengambilan keuntungan bertahap (take profit) di dekat resistance dinilai penting untuk menghadapi pergerakan indeks yang berisiko volatil sepanjang pekan.
Sumber
Berita berikutnya

Harga Pangan Naik, Cabai Rawit Dekati Rp100 Ribu per Kg
Data PIHPS Nasional yang dikelola Bank Indonesia dan laporan sejumlah media menunjukkan harga beras berbagai kualitas, daging sapi, dan cabai mengalam…
Baca juga





