Kabar18.com

Selasa, 22 September 2026

Riset Ensign: Sepuluh Model AI Frontier Mampu Jalankan Tahapan Serangan Siber

Pada 17 September 2026, berbagai media teknologi di Indonesia mengulas riset Ensign InfoSecurity yang menunjukkan sepuluh model AI frontier mampu menjalankan sebagian besar tahapan serangan siber dalam lingkungan simulasi terkontrol…

Oleh

· Peristiwa: · 3 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Kabel-kabel jaringan LAN yang terpasang berantakan pada panel server.
Ilustrasi: Kabel-kabel jaringan LAN yang terpasang berantakan pada panel server. · Foto: Tanpa nama / rawpixel (Openverse), CC0

Jakarta — Pada 17 September 2026, sejumlah media teknologi di Indonesia memberitakan hasil pengujian Ensign InfoSecurity terhadap sepuluh model kecerdasan buatan frontier yang menunjukkan kemampuan tinggi untuk menjalankan berbagai tahapan serangan siber di lingkungan jaringan simulasi yang terkontrol. Tiga model dengan kinerja terbaik masing-masing mencapai keberhasilan tinggi pada tujuh dari delapan tujuan serangan yang diuji.

Laporan Ensign itu merupakan bagian dari edisi ketujuh Cyber Threat Landscape Report 2026. Dalam kajian tersebut, sepuluh model AI frontier berperan sebagai pelaku ancaman siber tingkat lanjut dan secara berurutan diberi delapan tujuan serangan terhadap jaringan simulasi yang menyerupai lingkungan universitas dengan portal pembelajaran daring, sistem login staf dan mahasiswa, serta perangkat pemantauan dan deteksi ancaman yang lazim digunakan organisasi.

Media seperti detikInet, Jawapos, dan Warta Ekonomi menjelaskan bahwa Ensign menyeleksi sepuluh model dari lebih dari 150 model AI yang tersedia secara umum sebelum menguji mereka secara mendalam. Setiap model menjalankan delapan tujuan serangan yang sama sebanyak 16 kali, sehingga total ada 160 skenario serangan dalam pengujian tersebut.

Seluruh model yang diuji dilaporkan mampu memperoleh akses awal ke jaringan simulasi. Namun, kemampuan menembus tahapan serangan yang lebih dalam dan menghindari deteksi tidak merata. Tiga model, yakni GPT-5.6 Sol dari OpenAI, Claude Opus 4.8 dari Anthropic, dan GLM-5.2 dari Z.AI, disebut sebagai model dengan performa ofensif tertinggi karena secara konsisten mencatat keberhasilan tinggi pada tujuh dari delapan tujuan serangan.

Ensign menemukan bahwa tujuan serangan mencakup antara lain memperoleh akses awal ke jaringan, mengakses data sensitif, melewati batasan jaringan, mengambil alih sistem tepercaya, mencuri kredensial, melakukan perpindahan dari satu sistem ke sistem lain, menghindari mekanisme keamanan, dan mempertahankan akses ke lingkungan target. Hasil pengujian menunjukkan bahwa serangan yang sebelumnya memerlukan waktu dan keahlian besar kini berpotensi dijalankan dalam waktu lebih singkat dengan dukungan model AI frontier.

Sejumlah laporan menyoroti dimensi ekonomi dari temuan ini. GLM-5.2 dari Z.AI dilaporkan memiliki kemampuan ofensif sebanding dengan GPT-5.6 Sol, tetapi dengan biaya operasional sekitar seperlima. Media teknologi regional yang mengulas laporan Ensign menegaskan bahwa sejumlah model dari pengembang di Asia Timur dengan biaya operasional lebih rendah secara konsisten memberikan kemampuan lebih tinggi jika diukur dari kapabilitas per dolar.

Tren tersebut membuat kemampuan serangan siber yang ofensif berpotensi menjadi lebih mudah diakses. Menurut ulasan Investor.id dan Warta Ekonomi atas laporan Ensign, model AI canggih dapat menurunkan biaya, waktu, dan tingkat keahlian teknis yang dibutuhkan untuk menjalankan serangan siber kompleks. AI berfungsi sebagai penguat teknik serangan yang sudah ada, seperti pemindaian kerentanan dan pembuatan umpan phishing, bukan menggantikan seluruh metode konvensional.

Di Indonesia, temuan Ensign ini diposisikan sebagai peringatan bagi organisasi untuk memperkuat pemantauan internal dan respons insiden. Media yang mengutip paparan Ensign di Jakarta pada 16 September 2026 mencatat bahwa meskipun model AI mampu menembus beberapa tujuan serangan secara mandiri, pertahanan yang mampu mendeteksi aktivitas mencurigakan setelah akses awal tetap dapat membatasi dampak serangan.

Sejalan dengan itu, Bisnis.com dan sejumlah media lain menyoroti bahwa perkembangan AI memperpendek jarak antara proses observasi dan intervensi terhadap data dalam serangan siber. Organisasi didorong untuk meningkatkan segmentasi jaringan, pengelolaan identitas dan akses, serta kemampuan analitik keamanan agar dapat merespons serangan yang semakin cepat dan adaptif.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Teknologi

  3. Berita utama hari ini

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.