Kabar18.com

Sabtu, 19 September 2026

Sebulan Pascagempa Flores: Asita Sebut Wisata Labuan Bajo Normal, 22 Desa Wisata Masih Ditutup

Asita NTT menyebut reservasi ke Labuan Bajo kembali mengalir sebulan setelah gempa M7,7. Di tujuh kabupaten di Flores, 22 desa wisata belum menerima tamu per 14 September, sementara gempa susulan terus meluruh.

Oleh

Penanggung Jawab Redaksi: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: kapal dan perahu berlabuh di perairan dekat pelabuhan Labuan Bajo, Manggarai Barat, dalam foto September 2018. (Foto: Isabell Schulz / Wikimedia Comm…
Ilustrasi: kapal dan perahu berlabuh di perairan dekat pelabuhan Labuan Bajo, Manggarai Barat, dalam foto September 2018. (Foto: Isabell Schulz / Wikimedia Commons, CC BY-SA 2.0)

Labuan Bajo — Sebulan setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026, asosiasi agen perjalanan menyatakan wisata Labuan Bajo kembali normal: pesanan masuk lagi, destinasi dibuka. Di tujuh kabupaten di pulau itu, 22 desa wisata tercatat masih tertutup bagi pengunjung per 14 September.

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Nusa Tenggara Timur Oyan Kristian mengatakan pihaknya sudah menerima kabar dari otoritas bahwa destinasi wisata kembali dibuka. Kini, kata Oyan saat dikonfirmasi Bisnis.com pada Rabu, 16 September 2026, "reservasi masuk, wisatawan datang dan pergi."

Pada hari-hari awal gempa, Asita mencatat 44 pembatalan dan perubahan rencana perjalanan. Biro perjalanan menawarkan dua pilihan: jadwal ulang tanpa biaya tambahan, kapan saja, atau pengembalian dana 100 persen.

Di seluruh Flores, pemulihan belum seragam. DetikBali pada Senin, 14 September, melaporkan 22 desa wisata terdampak gempa masih ditutup, tersebar di Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ende, Flores Timur, dan Sikka. Di antaranya Liang Bua dan Ranaka di Manggarai, Pemo Kelimutu di Ende, enam desa di Nagekeo, dan tiga desa di Sikka.

Sebanyak 36 desa wisata lain sudah menerima tamu, dan dari 13 desa yang rusak ringan — pada homestay, dek pandang, toilet, hingga jalur papan — sebagian tetap beroperasi. Angka 22 itu sama dengan catatan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) per 23 Agustus, ketika baru 29 desa wisata buka kembali, tetapi daftarnya bergeser: Pemo Kelimutu kala itu tercatat sudah buka. BPOLBF menyebut data itu dinamis dan terus diperbarui.

Mengapa ini penting

Labuan Bajo termasuk destinasi unggulan Indonesia; Kementerian Pariwisata mencatat 500.008 kunjungan wisatawan ke sana sepanjang 2025, tulis Bisnis.com. Dalam siaran pers 3 September, BPOLBF memastikan Bandara Komodo dan Pelabuhan Marina beroperasi, pelayaran ke Taman Nasional Komodo dibuka lagi dengan menimbang cuaca dan keselamatan, serta listrik dan telekomunikasi normal. Artinya, wisata bahari ke kawasan Komodo bisa berjalan.

Lain halnya bagi pelancong yang menyusuri Flores lewat darat: sebagian kampung adat dan desa wisata belum bisa disinggahi. Bagi warga, bencananya belum usai. Bisnis.com, mengutip BNPB, menulis 46.461 orang masih mengungsi dan korban meninggal mencapai 142 orang.

Angka kunci

  • 44 pembatalan dan perubahan rencana perjalanan (Asita NTT, dikutip Bisnis.com).
  • 22 desa wisata masih ditutup, 36 dibuka kembali, 13 rusak ringan (detikBali, 14 September).
  • 15.722 gempa susulan dalam 30 hari, 190 dirasakan; per pekan turun dari 5.011 (pekan pertama) ke 2.421 (pekan keempat); pekan kelima sementara 864 (BMKG).
  • Hampir 50 persen kenaikan kunjungan ke Beo Mano, Manggarai Timur, pada Agustus–September dibanding tahun lalu (Pokdarwis Beo Mano, dikutip RRI).

Kata para pihak

"Kami mengajak wisatawan untuk kembali berkunjung ke Labuan Bajo dengan tetap memperhatikan informasi resmi, kondisi cuaca, serta arahan keselamatan dari pihak yang berwenang," kata Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOLBF Andhy Marpaung dalam siaran pers 3 September, dikutip lagi detikBali pada 14 September.

Dalam siaran pers yang sama, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Manggarai Barat Petrus A. Rasyid menyatakan destinasi dan akomodasi yang buka sudah diperiksa kesiapan dan keamanannya, sedangkan yang belum siap tetap ditutup sementara.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Beo Mano di Manggarai Timur, Denny, kepada RRI pada Jumat, 18 September, menilai penutupan sementara pendakian Gunung Inerie, Taman Nasional Kelimutu, dan Liang Bua membuat wisatawan mencari alternatif; Agustus, katanya, juga puncak musim kunjungan. Ia berharap pemulihan dipercepat dan permodalan bagi usaha kecil dipermudah.

Apa selanjutnya

BMKG, yang dalam konferensi pers 15 September menyatakan gempa susulan telah memasuki fase peluruhan, memperkirakan guncangan bermagnitudo 3 hingga kurang dari 4 masih berlangsung enam sampai tujuh pekan ke depan, dan yang lebih kecil hingga beberapa bulan. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menegaskan perkiraan itu kecenderungan statistik, bukan tanggal pasti berakhirnya gempa.

Sumber-sumber yang ditelusuri Kabar18 tidak memuat jadwal pembukaan 22 desa tersebut. Andhy, dikutip FloresPos pada 10 September, meminta dinas pariwisata dan pengelola tidak terburu-buru membuka destinasi bila kondisi belum memungkinkan. Wae Rebo, yang ditutup sejak gempa dan dibuka lagi pada 1 September, akan tutup pada 2–3 Oktober 2026 untuk upacara adat, menurut detikBali.

Kementerian Pariwisata, dalam siaran pers 19 Agustus, meminta wisatawan yang hendak ke Flores memantau informasi resmi dan menghubungi hotline BPOLBF di 0811-3879-4555 sebelum berangkat.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.