Trump Ultimatum Iran, Harga Minyak Melemah dan Pasar Keuangan Goyah
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran sembari membuka peluang pertemuan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela Sidang Umum PBB, yang memicu pelemahan harga minyak dunia dan menekan…
Oleh Kevin Mikael Januar
· 3 menit baca
Washington DC — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras terhadap Iran dan menyebut sedang berada dalam fase pengambilan keputusan terkait perang dengan negara tersebut. Dalam wawancara dengan Fox News yang dikutip sejumlah media, Trump menyatakan bahwa opsi yang ada di mejanya mencakup menghancurkan Iran, membiarkan negara itu melemah secara ekonomi, atau merundingkan suatu kesepakatan.
Menurut laporan media internasional yang dikutip media Indonesia, Trump mengatakan dirinya mempertimbangkan apakah dan kapan akan menghancurkan seluruh Iran, serta memperingatkan bahwa akan ada perkembangan besar jika Teheran tidak mengubah sikapnya. Ia menegaskan bahwa Iran perlu menjaga sikap dan mengisyaratkan bahwa Washington siap mengambil langkah militer maupun tekanan ekonomi bila tidak tercapai jalan keluar diplomatik.
Di sisi lain, Trump tetap menyampaikan sinyal bahwa jalur diplomasi belum tertutup. Dalam wawancara yang sama, ia menyatakan keterbukaan untuk bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Sejumlah media ekonomi mencatat bahwa pernyataan ini dipandang pasar sebagai peluang meredanya ketegangan, meski ancaman militer tetap disampaikan.
Harapan atas upaya diplomasi tersebut berkontribusi pada pelemahan harga minyak mentah dunia. Media keuangan melaporkan harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) turun pada perdagangan Senin, dengan Brent dan WTI masing-masing melemah sekitar 2 persen dan menembus level terendah dalam lebih dari sepekan. Laporan lain menyebut harga Brent untuk pengiriman November turun sekitar 0,9 persen ke kisaran US$102–103 per barel, sementara WTI turun sekitar 1 persen ke kisaran US$99 per barel.
Media pasar modal Indonesia mencatat bahwa sentimen pernyataan Trump dan peluang pertemuan dengan Presiden Iran turut mempengaruhi aset berisiko, termasuk di Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi perdagangan Senin pagi melemah sekitar 0,4 persen ke kisaran 6.400-an. Pada saat yang sama, rupiah terdepresiasi ke sekitar Rp17.800 per dolar Amerika Serikat, mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap dinamika geopolitik dan pergerakan harga energi global.
Di pasar komoditas, harga minyak yang melemah namun masih bertahan di kisaran US$100 per barel menunjukkan bahwa pelaku pasar masih menimbang risiko gangguan pasokan akibat ketegangan di Timur Tengah dengan potensi deeskalasi jika jalur diplomasi benar-benar ditempuh. Beberapa analis pasar yang dikutip media keuangan menilai bahwa sinyal diplomasi Amerika Serikat dan Iran membantu menahan kenaikan harga minyak yang sebelumnya sempat menguat akibat ketidakpastian konflik.
Sementara itu, dari pihak Iran, sejumlah pejabat menyampaikan bahwa Teheran memiliki syarat-syarat tertentu sebelum bersedia kembali ke meja perundingan. Media di Iran dan internasional memberitakan bahwa tokoh-tokoh politik Iran menuntut penghentian perang, pembebasan aset-aset Iran yang dibekukan, dan perubahan kebijakan Amerika Serikat di kawasan sebelum proses diplomasi bisa berjalan. Mereka menyatakan menunggu tanggapan resmi dari Presiden Trump atas tuntutan tersebut.
Perkembangan hubungan Amerika Serikat–Iran ini menjadi salah satu faktor utama yang diawasi pelaku pasar global. Dengan ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak dan sensitivitas pasar keuangan domestik terhadap gejolak global, pernyataan Trump dan respons Iran diperkirakan akan terus mempengaruhi pergerakan harga energi, nilai tukar, dan pasar saham Indonesia dalam waktu dekat.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Ekonomi & Keuangan
OJK Pantau Pasar Modal Setelah IHSG Turun 16,70 Persen pada Oktober
OJK pada 5 November 2026 menyatakan terus memantau pasar modal bersama BEI, KPEI, dan KSEI setelah IHSG terkoreksi 16,70 persen pada Oktober dan jual…
Terbaru di Internasional

Berita utama hari ini

Baca juga





