Kabar18.com

Senin, 26 Oktober 2026

Warga Muaro Jambi Bertekad Tidak Akan Berikan Kental Manis Lagi Untuk Anak

Tim Redaksi Kabar18

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Kampanye dan edukasi Bahaya Kental Manis || Dok Pri
Kampanye dan edukasi Bahaya Kental Manis || Dok Pri

KABAR18.COM - Rondiyah (53), warga Kabupaten Muaro Jambi terdiam mendengarkan penjelasan Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat Aisyiyah (Makes PPA) tentang bahaya kental manis bila dikonsumsi sebagai minuman susu oleh anak. Pasalnya, ia secara rutin memberikan seduhan kental manis sebanyak dua kali sehari, untuk cucunya yang masih berusia 3,5 tahun .

Rondiyah selama ini beranggapan, kental manis adalah susu yang baik untuk sang cucu. “Lihat di TV, iklannya kan untuk susu, diminum anak-anak,” jelas Rondiyah saat ditanya alasannya memberikan kental manis untuk cucu yang sehari-hari berada dalam pengasuhannya. 

Lebih lanjut, Rondiyah mengaku senang dapat mengikuti edukasi yang diselanggaran Makes PPA tersebut. Sebab, ia jadi lebih paham apa saja yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh cucunya. “Adanya kegiatan ini sangat bagus untuk kita, saya jelas tidak akan memberikan lagi kental manis untuk cucu-cucu saya,” ujarnya tegas. 

Rondiyah adalah salah satu dari 24 warga Kab. Muara Jambi yang mengikuti program edukasi pendampingan gizi untuk ibu dan balita yang di gagas oleh Makes PPA. Dalam pelaksanaannya pendampingan yang akan berlangsung selama delapan minggu ini melibatkan Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Muaro Jambi sebagai pendamping dan monitoring pelakasnaan program. 

Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Muaro Jambi, Nurhaidah dalam kesempatan itu mengatakan hadirnya program pendampingan gizi kepada ibu serta balita salah satunya bertujuan agar konsumsi kental manis dapat dikurangi atau dihilangkan sama sekali. Sebab, kental manis mengandung gula yang sangat tinggi dan berbahaya bagi tubuh balita jika dikonsumsi secara rutin.

“Kita terus edukasi kepada masyarakat bahwa kental  manis yang diberikan ibu pada  balita tidak diperbolehkan,” kata Nurhaidah dalam acara program edukasi dan pendampingan gizi ibu dan balita, Sabtu (3/5). Selain Jambi, program yang sama juga dilaksanakan di Kab Pamijahan, Bogor dan Kota Kupang, NTT. 

Dari 24 balita yang mengonsumsi kental manis, banyak mengalami permasalahan kesehatan dari yang paling ringan hingga berat. Ada yang mengalami gigi rusak, kekurangan zat besi hingga stunting. 

Selain karena ketidaktahuan dan kesalahan persepsi, ada sejumlah faktor lainnya yang turut mempengaruhi pemberian kental manis pada balita. Umumnya, faktor lainnya berkaitan dengan ekonomi, yaitu  harganya murah dan terjangkau dan sesuai dengan  penghasilan warga yang rendah, serta iklan di media massa maupun media sosial yang membuat masyarakat berasumsi kental manis adalah susu.

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Kesehatan

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.