Cabai Rawit Merah Rp96.100 per Kg, Naik Rp6.100 dalam Sepekan Menurut PIHPS Bank Indonesia
Rata-rata nasional cabai rawit merah di pasar tradisional naik dari Rp90.000 pada 11 September menjadi Rp96.100 pada 18 September. Beras medium hanya bergeser Rp50 per kilogram, menurut data PIHPS Bank Indonesia.
Oleh Pandi Muktar
Penanggung Jawab Redaksi: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Jakarta — Harga rata-rata nasional cabai rawit merah di pasar tradisional mencapai Rp96.100 per kilogram pada Jumat, 18 September 2026, menurut Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional Bank Indonesia. Dalam sepekan harganya naik Rp6.100, sedangkan beras medium nyaris tak bergerak.
Tabel harian PIHPS yang dibuka Kabar18 pada Sabtu, 19 September, merekam jalur kenaikannya: Rp90.000 pada 11 September, Rp92.550 pada 14 September, Rp93.200 sehari kemudian, lalu Rp95.150 pada 16–17 September. Selisih sepekan itu setara 6,78 persen.
Jenis cabai lain ikut naik. Cabai merah keriting kini Rp69.100 per kilogram, bertambah Rp5.950 atau 9,42 persen dari posisi 11 September. Cabai merah besar menjadi Rp58.000 (naik 6,23 persen) dan cabai rawit hijau Rp67.600 (naik 4,81 persen).
Beras bergerak lebih pelan: beras medium II bertahan di Rp16.400 per kilogram sejak 14 September, hanya Rp50 di atas harga 11 September. Beras medium I baru bergeser pada Jumat, dari Rp16.600 ke Rp16.650. Bawang merah turun Rp450 dalam sepekan menjadi Rp37.250 per kilogram.
Angka pagi berbeda dari tabel harian
Pemberitaan Jumat pagi memuat angka yang lebih rendah. Suara.com, yang memantau laman PIHPS pukul 08.54 WIB, menulis cabai rawit merah Rp93.150 per kilogram, naik 3,5 persen. IDX Channel, tayang pukul 08.41 WIB, mencantumkan harga yang sama dengan kenaikan 3,44 persen.
Hitungan Kabar18 atas tabel PIHPS memberi petunjuk. Persentase Suara.com cocok bila Rp93.150 dibandingkan dengan harga 11 September (Rp90.000); angka IDX Channel untuk cabai rawit merah cocok dengan harga 10 September (Rp90.050).
Saat merinci kenaikan cabai merah keriting, Suara.com menyebut pembandingnya harga perdagangan sebelumnya. Namun, di tabel harian yang kini tersedia, harga cabai rawit merah 17 September sudah Rp95.150, di atas angka pagi itu. Kabar18 tidak dapat memastikan basis pembanding yang tampil di laman PIHPS pada Jumat pagi; yang pasti, angka pagi belum final karena rata-rata 18 September kini tercatat Rp96.100.
Untuk pasar tradisional, PIHPS mencatat harga eceran dari transaksi pedagang dan pembeli di berbagai daerah, menurut keterangan yang dimuat Suara.com.
Mengapa ini penting
Cabai dan beras termasuk kelompok pangan bergejolak yang ikut menentukan inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan komponen bergejolak 0,88 persen pada Agustus 2026 dengan andil 0,15 persen, tertinggi di antara tiga komponen inflasi. Penyumbang utamanya daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.
Dalam konferensi pers di Jakarta, 1 September 2026, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengutip prakiraan BMKG bahwa El Nino 2026 berpotensi bertahan hingga awal 2027. Menurut laporan CNBC Indonesia, ia meminta dampaknya terhadap harga pangan diperhatikan, seraya mengingatkan bahwa iklim bukan satu-satunya faktor: produksi, kelancaran distribusi, dan pasokan di pasar ikut menentukan.
Rata-rata nasional juga menutupi jurang antardaerah. Pantauan Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 10 September — sumber data yang berbeda dari PIHPS — menunjukkan cabai rawit Rp152.872 per kilogram di Sulawesi Utara, tetapi Rp56.604 di Nusa Tenggara Timur. Rata-rata nasional versi Bapanas Rp81.052.
Kata para pihak
Dalam keterangan yang dikutip CNBC Indonesia pada 11 September, I Gusti Ketut Astawa, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, menyatakan lembaganya akan kembali menjalankan Fasilitasi Distribusi Pangan: stok cabai dari daerah surplus dikirim ke wilayah berharga tinggi dengan melibatkan petani binaan Kementerian Pertanian.
Rapat koordinasi Bapanas dengan petani cabai pada 26 Agustus mengidentifikasi tiga penekan pasokan: kemarau berkepanjangan, serangan hama trips dan kutu kebul, serta petani yang beralih ke komoditas lain. Kementerian Pertanian menyatakan produksi cabai rawit cukup sampai akhir tahun; Sudi Mardianto, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, memperkirakan produksi September sekitar 119 ribu ton.
Untuk beras, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada 14 September memperkirakan sawah yang kekeringan akibat El Nino sekitar 50.000 hektare, naik dari sekitar 30.000 hektare pada awal bulan. Menurut Kompas.com, ia memastikan target produksi beras 2026 tetap aman, sementara sawah kering ditangani dengan pompa dan sumur bor.
Apa selanjutnya
Keterangan Bapanas yang dikutip CNBC Indonesia tidak menyebut jadwal penyaluran cabai tahap baru. Kementerian Pertanian memperkirakan produksi sentra Jawa — Temanggung, Brebes, dan Magelang — meningkat seiring masuknya panen dan menilai tambahan itu dapat mengatasi potensi kenaikan harga menjelang Natal dan Tahun Baru.
Tabel PIHPS tidak memuat tanggal 12–13 September, akhir pekan lalu. Angka 18 September menjadi posisi terakhir yang tersedia.
Sumber
- Bank Indonesia — PIHPS Nasional
- Bank Indonesia — PIHPS, tabel harga pasar tradisional
- Suara.com — Harga pangan nasional 18 September
- IDX Channel — Update harga pangan 18 September 2026
- CNBC Indonesia — Bapanas siapkan distribusi cabai
- CNBC Indonesia — BPS soal El Nino dan harga pangan
- Kompas.com — Inflasi bulanan Agustus 2026
- Kompas.com — Sawah terdampak El Nino 50.000 hektare
Berita berikutnya

OJK Cabut Izin BPR Pasarraya Kuta di Badung, LPS Siapkan Pembayaran Simpanan Nasabah
Menurut OJK, bank perekonomian rakyat di Tuban, Kuta, itu tidak mampu memulihkan modal dan likuiditas setelah setahun berstatus dalam penyehatan. LPS…
Baca juga



