Rupiah tutup pekan di Rp17.758 per dolar AS, pasar menanti keputusan bunga BI
Rupiah melemah tipis lima poin pada Jumat, 18 September 2026, sementara JISDOR BI tercatat Rp17.745. Analis menunjuk harga minyak dan sikap ketat The Fed; pasar kini menunggu Rapat Dewan Gubernur BI 22–23 September.
Oleh Pandi Muktar
Penanggung Jawab Redaksi: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Jakarta — Rupiah menutup perdagangan Jumat, 18 September 2026, di Rp17.758 per dolar Amerika Serikat, turun lima poin atau 0,03 persen dari Rp17.753 sehari sebelumnya, menurut data Bloomberg yang dikutip Metro TV. Analis menunjuk harga minyak yang tinggi dan sikap ketat bank sentral AS sebagai beban utama rupiah.
Angka penutupan berbeda menurut penyedia data. Yahoo Finance mencatat rupiah di Rp17.735, menguat 13 poin atau 0,07 persen dari Rp17.748. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia berada di Rp17.745, menguat delapan poin dari Rp17.753.
Ketiganya memberi gambaran serupa: rupiah nyaris tidak bergerak, tetapi bertahan di kisaran Rp17.700-an. Kontan mencatat penutupan di pasar spot itu sebagai pelemahan ketujuh berturut-turut. Mata uang Asia bergerak tidak seragam: hingga pukul 15.00 WIB yen Jepang melemah 1,03 persen, sedangkan ringgit Malaysia menguat 0,44 persen.
Rupiah sempat menguat pada awal sesi. Bisnis.com mencatat posisi Rp17.739 pada pukul 09.34 WIB, lalu Rp17.748 pada pukul 12.40 WIB.
Kata para analis
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi, dalam analisis hariannya yang dikutip Metro TV, menunjuk pertempuran baru antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman sebagai pemicu dari luar negeri. Menurut dia, konflik itu menambah risiko pasokan minyak ketika pengiriman lewat Selat Hormuz sudah terganggu.
Angka harga minyak berbeda antarsumber. Liputan6 melaporkan Brent kontrak November turun 1,3 persen menjadi US$ 103,40 per barel, masih di atas US$ 100. Bisnis.com menulis harga minyak mentah dunia turun ke level US$ 95 per barel tanpa merinci acuannya.
Tekanan kedua datang dari Amerika Serikat. The Federal Reserve pada 16 September menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke kisaran 3,75–4,00 persen, tulis Kontan. Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan kepada Bisnis.com bahwa pernyataan bernada ketat (hawkish) dari Ketua The Fed Warsh mendorong pasar memperhitungkan kenaikan bunga lanjutan pada akhir tahun.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova, dikutip Liputan6 dari Antara, menyebut pelaku pasar kini menaksir peluang kenaikan bunga The Fed pada Oktober sudah di atas 50 persen. Ia juga mengingatkan harga minyak masih berada di atas asumsi APBN.
Dari dalam negeri, analisis yang dimuat Metro TV itu menyinggung defisit APBN yang hingga akhir Agustus 2026 tercatat Rp240,1 triliun atau sekitar 0,9 persen dari produk domestik bruto. Pendapatan negara mencapai Rp2.055,6 triliun, sedangkan belanja Rp2.295,7 triliun. Ibrahim juga menyoroti El Nino yang membawa cuaca panas dan kering.
“Persoalannya El Nino bukan hanya tentang perubahan cuaca,” kata Ibrahim dalam analisis hariannya. Menurut dia, tanpa antisipasi yang baik, fenomena itu bisa menekan ekonomi lewat jalur pangan dan inflasi.
Mengapa ini penting
Kurs saat ini lebih lemah daripada patokan yang dipakai pemerintah dalam menyusun anggaran. APBN 2026 memakai asumsi Rp16.500 per dolar AS. RAPBN 2027, yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto kepada DPR pada 14 Agustus 2026, memasang asumsi di kisaran Rp17.500, menurut Antara dan CNBC Indonesia.
Bagi pembaca, arah rupiah ikut menentukan harga barang dan bahan baku impor, termasuk energi, serta ruang gerak Bank Indonesia dalam menetapkan bunga acuan. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, dikutip Kontan, menilai kenaikan bunga The Fed mempersempit ruang kebijakan BI, tetapi tidak otomatis memaksa BI menaikkan BI Rate bulan ini.
Angka kunci
- Rp17.758 per dolar AS: penutupan pasar spot Jumat versi Bloomberg; melemah 5 poin atau 0,03 persen.
- Rp17.735: posisi versi Yahoo Finance; menguat 13 poin atau 0,07 persen.
- Rp17.745: kurs referensi JISDOR Bank Indonesia; menguat 8 poin.
- 5,75 persen: BI Rate saat ini; bunga The Fed 3,75–4,00 persen (Kontan).
- Rp17.500: asumsi kurs RAPBN 2027; asumsi APBN 2026 Rp16.500 (Antara).
Apa selanjutnya
Rapat Dewan Gubernur BI dijadwalkan pada 22–23 September 2026. Josua memperkirakan BI menahan BI Rate di 5,75 persen. Lukman menyampaikan pandangan serupa: pasar mengantisipasi bunga acuan tidak berubah.
Untuk perdagangan Senin, 21 September, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dan ditutup melemah di rentang Rp17.750–Rp17.800, lalu Rp17.650–Rp18.000 sepanjang pekan depan. Lukman, dalam laporan Bisnis.com, melihat rupiah berkonsolidasi di Rp17.700–Rp17.800 pada Senin. Semua angka itu adalah pandangan analis, bukan kepastian arah pasar.
Sumber
- Metro TV News — Jumat sore, rupiah ditutup ke level Rp17.758/USD
- Bisnis.com — Rupiah ditutup melemah ke Rp17.758, pasar antisipasi RDG BI pekan depan
- Bisnis.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Jumat 18 September 2026
- Kontan — Rupiah ditutup melemah tipis ke Rp17.758, mata uang Asia bervariasi
- Liputan6 — Nilai tukar rupiah ditutup melemah, tertekan sikap The Fed
- Kontan — The Fed naikkan bunga, BI diprediksi tahan BI Rate di 5,75%
- ANTARA — Daftar lengkap asumsi makro dan target pembangunan RAPBN 2027
- CNBC Indonesia — Prabowo patok kurs Rp17.500/US$ di RAPBN 2027
Berita berikutnya

APBN Defisit Rp240,1 Triliun hingga Agustus, Paparan Perdana Menkeu Suahasil Nazara
Pendapatan negara tumbuh 25,4 persen menjadi Rp2.055,6 triliun, sedangkan belanja mencapai Rp2.295,7 triliun. Defisit setara 0,93 persen PDB dan kesei…
Baca juga





