Kabar18.com

Sabtu, 19 September 2026

The Fed Naikkan Bunga ke 3,75–4 Persen, Ekonom Perkirakan BI Tahan BI Rate di 5,75 Persen

Komite kebijakan The Fed menyetujui kenaikan 25 basis poin dengan suara 12–0 pada 16 September. Menjelang Rapat Dewan Gubernur BI 22–23 September, sejumlah ekonom menilai BI tak perlu buru-buru mengikuti, meski ruang bersabarnya menyempit.

Oleh

Penanggung Jawab Redaksi: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: menara kembar kompleks perkantoran Bank Indonesia (kiri) di antara gedung-gedung lain di Jakarta Pusat, dalam foto tahun 2009. (Foto: musnahterinjak…
Ilustrasi: menara kembar kompleks perkantoran Bank Indonesia (kiri) di antara gedung-gedung lain di Jakarta Pusat, dalam foto tahun 2009. (Foto: musnahterinjak / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0)

Jakarta — Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), menaikkan suku bunga acuannya 25 basis poin ke kisaran 3,75–4,00 persen pada Rabu, 16 September 2026. Bank Indonesia baru bersidang pada 22–23 September, dan sejumlah ekonom memperkirakan BI Rate bertahan di 5,75 persen.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menyetujui pernyataan kebijakan itu dengan suara 12–0. Komite menggambarkan ekonomi AS tumbuh solid dan angka pengangguran nyaris tak bergerak, sementara inflasi masih tinggi. Kenaikan bunga, menurut komite, akan mempercepat kembalinya inflasi ke sasaran 2 persen.

Katadata mencatat langkah ini sebagai kenaikan bunga pertama The Fed sejak Juli 2023.

Di Jakarta, BI Rate kini 5,75 persen. BI mengerek bunga 100 basis poin secara kumulatif pada Mei–Juni—terakhir dari 5,50 ke 5,75 persen pada 18 Juni, menurut catatan Kontan—lalu menahannya dalam rapat Juli dan Agustus.

Kata para pihak

Ekonom ASEAN UOB Enrico Tanuwidjaja menyampaikan proyeksinya sebelum hasil FOMC keluar. Dalam sebuah forum di Jakarta, Selasa, 15 September, ia memperkirakan BI menahan bunga karena kenaikan The Fed telah diperhitungkan pasar dan BI sudah mengetatkan kebijakan lebih dulu, seperti dilaporkan Kompas.com. Kenaikan inflasi belakangan, kata dia, lebih banyak dipicu faktor pasokan.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, kepada Kontan pada Kamis, 17 September, berpendapat serupa. Langkah The Fed mempersempit ruang gerak BI, tetapi tidak mewajibkan BI ikut menaikkan bunga, sebab bank sentral juga punya surat berharga BI, instrumen pasar uang dan valuta asing, serta pengelolaan likuiditas. Meski begitu, Josua mengingatkan bahwa “ruang untuk bersabar sekarang lebih sempit” dibanding sebelum keputusan bank sentral AS.

Rully Arya Wisnubroto, Kepala Riset dan Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas, dalam riset tertulis Jumat, 18 September, juga memperkirakan BI menahan bunga, seperti dikutip Kompas.com. Menurut dia, intervensi valuta asing dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi pilihan pertama, kenaikan bunga acuan pilihan terakhir. Ia meminta pasar mencermati kurs Rp 17.850–17.900 per dolar AS.

Tidak semua sependapat. Sebelum FOMC mengumumkan keputusannya, ekonom Kisi Asset Management Arfian Prasetya Aji kepada Kompas.com menilai ada potensi kuat BI turut menaikkan bunga untuk menjaga selisih suku bunga dan mencegah modal asing keluar. Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz, juga dikutip Kompas.com, menyebut kenaikan The Fed tak otomatis harus diikuti, tetapi skenario dasarnya melihat BI Rate berpotensi naik hingga 50 basis poin ke 6,25 persen sampai akhir tahun.

Mengapa ini penting

Bagi rumah tangga dan pelaku usaha, arah BI Rate menentukan ongkos pinjaman. Josua mengingatkan, bunga acuan yang lebih tinggi berarti cicilan kredit lebih mahal, biaya modal perusahaan naik, dan investasi bisa tertunda—padahal ia menaksir penjualan eceran Agustus hanya tumbuh sekitar 0,5 persen. Sebaliknya, menurut dia, menahan bunga ketika aset berbasis dolar makin menarik berisiko menekan rupiah dan menambah inflasi dari barang impor.

Rupiah melemah setelah keputusan The Fed. Di pasar spot, kurs ditutup Rp 17.753 per dolar AS pada Kamis, 17 September, turun 57 poin menurut Katadata, lalu Rp 17.758 pada Jumat menurut Kompas.com. Josua juga menyoroti defisit transaksi berjalan, yang ia perkirakan sekitar 3,34 persen produk domestik bruto pada kuartal II.

Angka kunci

  • BI Rate 5,75 persen; deposit facility 4,75 persen; lending facility 6,50 persen (Kompas.com, Antara).
  • Inflasi Agustus 2026: 3,19 persen secara tahunan, naik dari 2,28 persen pada Juli; inflasi inti 2,92 persen; sasaran BI 2,5 persen plus-minus 1 persen (Kompas.com mengutip data BI).
  • Cadangan devisa akhir Agustus: US$146,5 miliar, setara pembiayaan 5,4 bulan impor (Bank Indonesia).
  • Imbal hasil SBN tenor 10 tahun sekitar 7,15 persen per 11 September, naik sekitar 108 basis poin sejak awal tahun (Josua Pardede kepada Kontan).

Apa selanjutnya

RDG BI berlangsung Selasa–Rabu, 22–23 September 2026. Bulan lalu, hasil rapat 18–19 Agustus diumumkan pada hari kedua, menurut Antara. Hingga Sabtu, 19 September, BI belum mengumumkan keputusan apa pun; seluruh perkiraan BI Rate di atas adalah proyeksi para ekonom.

Arah berikutnya, menurut Josua, bergantung pada langkah The Fed. Dalam skenarionya, BI Rate bertahan 5,75 persen sepanjang 2026 bila kenaikan September menjadi yang terakhir. Bila The Fed kembali menaikkan bunga pada Desember, ia melihat peluang BI Rate naik 25 basis poin ke 6,00 persen pada kuartal IV.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.