APBN Defisit Rp240,1 Triliun hingga Agustus, Paparan Perdana Menkeu Suahasil Nazara
Pendapatan negara tumbuh 25,4 persen menjadi Rp2.055,6 triliun, sedangkan belanja mencapai Rp2.295,7 triliun. Defisit setara 0,93 persen PDB dan keseimbangan primer masih surplus Rp154 triliun.
Oleh Pandi Muktar
Penanggung Jawab Redaksi: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Jakarta — Menteri Keuangan Suahasil Nazara melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) defisit Rp240,1 triliun, setara 0,93 persen produk domestik bruto (PDB), hingga akhir Agustus 2026. Angka itu ia paparkan dalam APBN KiTa edisi September di Kementerian Keuangan, Jakarta, pada Jumat, 18 September 2026.
Defisit muncul karena belanja negara Rp2.295,7 triliun melampaui pendapatan yang terkumpul Rp2.055,6 triliun. Meski begitu, keseimbangan primer — selisih pendapatan dan belanja di luar pembayaran bunga utang — masih positif Rp154 triliun. Menurut laporan Kompas.com, Suahasil menilai kondisi itu menunjukkan kinerja anggaran tetap kuat, defisit terkendali, dan pelaksanaan APBN relatif sesuai jalur.
Menurut Metro TV News, ini paparan kinerja APBN pertama Suahasil sejak dilantik sebagai Menteri Keuangan. Acara dimulai pukul 09.30 WIB di Aula Djuanda, Gedung Djuanda I, dan Suahasil didampingi Wakil Menteri Keuangan Juda Agung serta para pejabat eselon I.
Pergantian di Kementerian Keuangan baru berlangsung pekan ini. Tempo melaporkan, pada Senin, 14 September 2026, Presiden Prabowo Subianto mengganti Purbaya Yudhi Sadewa dengan Suahasil. Suahasil sebelumnya Wakil Menteri Keuangan di Kabinet Merah Putih sejak 21 Oktober 2024, dan sudah memegang posisi wakil menteri sejak 25 Oktober 2019.
Okezone mencatat, angka defisit Rp240,1 triliun itu sudah lebih dulu disampaikan Purbaya pada pekan sebelumnya.
Penerimaan naik, belanja kementerian melonjak
Pendapatan negara tumbuh 25,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu dan sudah memenuhi 65,2 persen target. Penerimaan perpajakan menyumbang Rp1.619,3 triliun, naik 21,7 persen. Di dalamnya, setoran pajak mencapai Rp1.409 triliun atau tumbuh 24,1 persen, sedangkan kepabeanan dan cukai Rp210,2 triliun atau naik 7,8 persen.
Kenaikan paling tajam datang dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP). CNBC Indonesia mencatat PNBP mencapai Rp435,1 triliun, tumbuh 41,7 persen. Tempo menambahkan, jumlah itu sudah 94,8 persen dari target setahun.
Suahasil juga menyinggung restitusi, yakni pengembalian kelebihan pembayaran pajak kepada wajib pajak. Ia menyatakan pengelolaannya mengikuti ketentuan dan meminta pelaku ekonomi memakai fasilitas itu sesuai aturan. "Kalau hak pelaku usaha pasti akan diberikan," kata Suahasil dalam konferensi pers itu, seperti dikutip CNBC Indonesia.
Di sisi pengeluaran, belanja negara tumbuh 17,1 persen dan mencapai 59,7 persen pagu. Belanja pemerintah pusat tercatat Rp1.791,5 triliun, terdiri atas belanja kementerian dan lembaga (K/L) Rp912,4 triliun serta belanja non-K/L Rp879,1 triliun.
Tempo melaporkan belanja K/L naik 33 persen dari tahun lalu; Suahasil membacanya sebagai tanda kegiatan pemerintah berjalan di lapangan. Sebaliknya, transfer ke daerah baru tersalur Rp504,3 triliun, turun sekitar 11 persen.
Mengapa ini penting
Defisit berarti belanja lebih besar daripada pendapatan, dan selisihnya harus ditutup lewat pembiayaan. Karena itu, posisi defisit dan keseimbangan primer menjadi ukuran ruang pemerintah membiayai program serta menyalurkan dana ke daerah. Infobanknews mencatat surplus primer Rp154 triliun itu berkebalikan dengan target APBN 2026, yang semula memperhitungkan defisit primer Rp89,7 triliun.
Laporan ini juga menjadi tolok ukur awal bagi menteri keuangan baru, empat hari setelah pergantian di pucuk Kementerian Keuangan. Bagi pemerintah daerah, angka yang paling relevan adalah transfer ke daerah: menurut Tempo, penyalurannya turun sekitar 11 persen pada saat belanja kementerian dan lembaga naik 33 persen.
Angka kunci
- Pendapatan negara: Rp2.055,6 triliun, 65,2 persen target, tumbuh 25,4 persen (Kompas.com, CNBC Indonesia).
- Belanja negara: Rp2.295,7 triliun, 59,7 persen pagu, tumbuh 17,1 persen (Kompas.com).
- Defisit: Rp240,1 triliun atau 0,93 persen PDB; keseimbangan primer surplus Rp154 triliun (Kompas.com, Tempo).
- PNBP: Rp435,1 triliun, tumbuh 41,7 persen dan 94,8 persen target (CNBC Indonesia, Tempo).
- Transfer ke daerah: Rp504,3 triliun, turun sekitar 11 persen (Tempo).
Apa selanjutnya
Dengan realisasi belanja 59,7 persen, sekitar 40 persen pagu masih tersisa untuk empat bulan terakhir tahun anggaran. Okezone melaporkan pemerintah memperkirakan defisit hingga akhir 2026 berada di kisaran 2,85 persen PDB atau Rp734,3 triliun, melampaui tipis sasaran awal 2,68 persen PDB dalam APBN 2026.
RUU APBN 2027 sudah disampaikan Presiden Prabowo ke DPR lewat pidato kenegaraan pada Jumat, 14 Agustus 2026. Kompas.com mencatat, dalam pidato itu Prabowo menyebut pertumbuhan pendapatan negara per akhir Juli sebesar 21,3 persen secara tahunan — lebih rendah daripada 25,4 persen yang kini dilaporkan untuk posisi akhir Agustus.
Sumber
- Kompas.com — Defisit APBN hingga Agustus Rp 240,1 triliun
- CNBC Indonesia — Pendapatan negara Rp2.055,6 triliun dalam 8 bulan
- Tempo — APBN defisit Rp 240,1 triliun per Agustus
- Tempo — Sosok Suahasil Nazara yang dilantik sebagai Menkeu
- Metro TV News — Perdana jadi Menkeu, Suahasil paparkan kinerja APBN 2026
- Okezone — Defisit APBN Rp240,1 triliun hingga Agustus 2026
- Infobanknews — APBN Agustus 2026 defisit setara 0,93 persen PDB
Berita berikutnya

Cabai Rawit Merah Rp96.100 per Kg, Naik Rp6.100 dalam Sepekan Menurut PIHPS Bank Indonesia
Rata-rata nasional cabai rawit merah di pasar tradisional naik dari Rp90.000 pada 11 September menjadi Rp96.100 pada 18 September. Beras medium hanya…
Baca juga





