The Fed Naikkan Bunga Pertama sejak 2023 dengan Suara Bulat, Rupiah Tertekan Jelang Rapat BI
Bank sentral Amerika Serikat menaikkan bunga acuan 25 basis poin, yang pertama sejak Juli 2023, dengan suara bulat 12-0. Rupiah melemah ke kisaran Rp17.700-an per dolar AS menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia.
Oleh Kevin Mikael Januar
Penanggung Jawab Redaksi: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Washington — Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke kisaran 3,75–4,00 persen pada Rabu, 16 September 2026 waktu setempat. Kenaikan pertama sejak Juli 2023 itu diputuskan dengan suara bulat 12-0 karena inflasi dinilai masih tinggi.
Keputusan diumumkan pukul 14.00 waktu Washington, atau Kamis, 17 September, pukul 01.00 WIB. Dalam pernyataan resminya, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), forum penentu bunga The Fed, menyebut ekonomi Amerika tumbuh solid, belanja domestik tangguh, dan tingkat pengangguran nyaris tak berubah. Pernyataan itu ditutup kalimat pendek: "The Committee will deliver price stability", komite akan mewujudkan stabilitas harga.
CNBC Indonesia mencatat inflasi tahunan Amerika pada Agustus 2026 sebesar 3,4 persen, di atas sasaran 2 persen. Dalam konferensi pers seusai rapat, Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan inflasi terlalu tinggi dan sudah bertahan terlalu lama, menurut Fox Business dan CNBC Indonesia.
Kompas.id menulis 16 dari 18 peserta rapat memperkirakan bunga masih akan naik. Fox Business melaporkan proyeksi median menunjuk satu kenaikan 25 basis poin lagi sebelum akhir tahun.
Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto, dalam riset yang dikutip Kontan, mencatat indeks dolar membukukan kenaikan harian terbesar sejak pertengahan Juni, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Amerika tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi 52 pekan. Ia menilai gejolak itu lebih dipicu nada komunikasi The Fed ketimbang perubahan angka proyeksi.
Mengapa ini penting bagi Indonesia
Bunga Amerika yang lebih tinggi membuat aset berdenominasi dolar lebih menarik, sehingga rupiah tertekan. Data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia menunjukkan rupiah dibuka melemah 0,17 persen ke Rp17.705 per dolar AS pada Kamis pagi, dari penutupan Rabu di Rp17.675. Kompas.com, yang memakai data Bloomberg, mencatat pembukaan di Rp17.725, turun 0,16 persen dari Rp17.696. Pada penutupan Kamis, CNBC Indonesia mencatat rupiah di Rp17.735, turun 0,34 persen.
Data Bloomberg yang dikutip Kontan menempatkan rupiah di Rp17.758 pada penutupan Jumat, 18 September, turun 0,83 persen dalam sepekan dan melemah tujuh sesi beruntun.
Kompas.id mengingatkan dua jalur tekanan bagi Indonesia: biaya utang dan arus modal. Menurut harian itu, harga minyak yang bertahan di atas US$100 per barel menambah risiko inflasi dan menggerus devisa.
Angka kunci
- 3,75–4,00 persen: kisaran baru bunga acuan The Fed, disetujui 12-0 (Federal Reserve).
- 5,75 persen: BI Rate saat ini, setelah naik 50 basis poin pada 20 Mei, lalu 25 basis poin pada 9 Juni dan 25 basis poin lagi sembilan hari kemudian (CNBC Indonesia).
- 1,75 poin persentase: selisih BI Rate dengan batas atas bunga The Fed (CNBC Indonesia).
- Rp17.745 per dolar AS: kurs acuan JISDOR Bank Indonesia pada 18 September (Kontan).
Kata para ekonom
Ekonom ASEAN UOB Enrico Tanuwidjaja memperkirakan Bank Indonesia (BI) menahan bunga. Berbicara dalam sebuah forum di Jakarta pada Selasa, 15 September, sehari sebelum The Fed mengumumkan keputusannya, ia beralasan BI sudah lebih dulu mengerek BI Rate 100 basis poin sepanjang Mei–Juni, seperti dilaporkan Kompas.com. Rully dari Mirae Asset juga memperkirakan BI bertahan dengan mengandalkan intervensi valuta asing dan lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Ia menyebut level Rp17.850–Rp17.900 perlu dicermati dan melihat ruang kenaikan BI Rate hingga 6 persen.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, dalam keterangan kepada Kompas pada 13 September, sebelum rapat The Fed, menyusun dua skenario. BI bertahan di 5,75 persen bila rupiah berada di Rp17.400–Rp17.700 dan arus modal asing ke obligasi negara tetap positif. BI naik ke 6 persen bila, antara lain, The Fed memberi sinyal kenaikan lanjutan, minyak tetap di atas US$100, dan rupiah melemah cepat menuju Rp17.800–Rp18.000. Josua menegaskan kisaran itu tanda tekanan, bukan ambang resmi BI. Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz, kepada Kompas pada 14 September, mengingatkan ongkosnya: bunga yang naik terlalu cepat mengetatkan likuiditas dan menaikkan biaya dana perbankan.
Apa selanjutnya
Rapat Dewan Gubernur BI berlangsung Selasa–Rabu, 22–23 September 2026. Menurut jadwal yang dimuat Infobanknews, hari pertama diisi evaluasi ekonomi dan kebijakan ditetapkan pada hari kedua. Pada rapat 18–19 Agustus, BI mempertahankan bunga acuan. The Fed, menurut Fox Business, kembali bersidang pada 27–28 Oktober 2026.
Sumber
- Federal Reserve — pernyataan FOMC 16 September 2026
- CNBC Indonesia — dolar dibuka naik ke Rp17.705
- CNBC Indonesia Research — penutupan pasar RI 17 September
- CNBC Indonesia Research — riwayat kenaikan BI Rate 2026
- Kompas.com — BI Rate diproyeksi tetap 5,75 persen
- Kompas.com — rupiah tertekan ke Rp17.725
- Kompas.id — respons BI setelah Fed Rate naik
- Kontan — BI diprediksi tahan suku bunga
- Kontan — rupiah melemah sepekan
- Fox Business — keputusan FOMC September 2026
- Infobanknews — jadwal RDG Bank Indonesia 2026
Berita berikutnya
Baca juga





