ERIA Usulkan Skema Cadangan Minyak Bersama ASEAN
ERIA mengusulkan kerja sama penyimpanan cadangan minyak ASEAN. Kajian lembaga itu memperkirakan biaya skema bersama 22 persen lebih rendah, tetapi belum menjadi komitmen resmi ASEAN.
Oleh Kevin Mikael Januar
· 2 menit baca
ASEAN — Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) mengusulkan kerja sama penyimpanan cadangan minyak negara-negara ASEAN pada 6 November 2026 di Jakarta. Skema tersebut ditujukan untuk memperkuat ketahanan energi kawasan.
Mengapa ini penting: Jika diterapkan, skema ini dapat memengaruhi cara negara ASEAN menyiapkan dan mengakses cadangan minyak darurat, tetapi saat ini masih berupa rekomendasi kajian.
Menurut ERIA, biaya tahunan penyediaan cadangan minyak tambahan dengan pendekatan kerja sama diperkirakan mencapai US$2,19 miliar. Biaya itu lebih rendah dibandingkan pendekatan yang dipimpin masing-masing negara, yakni US$2,80 miliar, untuk volume cadangan yang sama.
Perbedaan tersebut setara dengan penghematan sekitar 22 persen. ERIA menyatakan perhitungan itu antara lain dipengaruhi asumsi bahwa cadangan tetap dimiliki produsen atau mitra, sementara negara peserta memperoleh hak akses berdasarkan kesepakatan.
Perhitungan tersebut belum memasukkan biaya tambahan untuk pengiriman darurat dan pengisian kembali cadangan. ERIA juga menegaskan bahwa skema itu masih berupa rekomendasi hasil kajian dan belum menjadi komitmen ASEAN.
Mekanisme masih perlu diuji
ERIA menyebut negara-negara peserta perlu menyepakati prosedur pelepasan cadangan, jenis bahan bakar yang sesuai, serta kapasitas transportasi untuk menyalurkan pasokan ketika terjadi gangguan.
Dalam pernyataan ERIA, Senior Energy Economist Han Phoumin mengatakan hak untuk menggunakan cadangan darurat baru merupakan langkah awal. Pemerintah dan operator, menurut dia, dapat menguji pengaturan tersebut melalui proyek percontohan sukarela sebelum terjadi gangguan pasokan.
ERIA sebelumnya mengembangkan strategi dan peta jalan penyimpanan minyak ASEAN dengan menggabungkan cadangan nasional, skema ticketing, dan cadangan bersama. Kerangka itu dirancang untuk diterapkan secara sukarela sesuai kondisi dan kesiapan masing-masing negara.
Liputan6 melaporkan ketergantungan Asia Tenggara terhadap minyak mentah dari Timur Tengah juga menjadi alasan penguatan ketahanan energi kawasan. Sekitar 60 persen impor minyak mentah Asia Tenggara sebelum krisis geopolitik terbaru berasal dari kawasan tersebut.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini
Teknologi
Komdigi Siapkan Perluasan Pusat Data hingga Indonesia Timur
Kementerian Komunikasi dan Digital menyiapkan perluasan pusat data swasta ke Indonesia Timur melalui penataan lokasi, energi, konektivitas cadangan, d…
Terbaru di Internasional

Berita utama hari ini

Baca juga





