Kabar18.com

Selasa, 20 Oktober 2026

Fadli Zon Dorong Museum Jadi Penggerak Ekonomi di Ubud

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong museum menjadi pusat edukasi, pelestarian peradaban, dan penggerak ekonomi. Pernyataan itu disampaikan dalam peringatan Hari Museum Indonesia 2026 di Ubud.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Dua orang pengunjung melihat lukisan yang dipajang di dinding galeri seni.
Ilustrasi: Dua orang pengunjung melihat lukisan yang dipajang di dinding galeri seni. · Foto: Guilherme Christmann / Pexels

Ubud — Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong museum di seluruh Indonesia menjadi pusat edukasi, etalase peradaban, dan penggerak pertumbuhan ekonomi saat peringatan Hari Museum Indonesia 2026 di Museum Rudana, Ubud, Bali, pada 19 Oktober 2026.

Dalam keterangannya pada 20 Oktober 2026, Fadli menyebut museum tidak hanya berfungsi menyimpan artefak. Museum, menurut dia, dapat menjadi ruang hidup dan pusat inspirasi apabila dikelola melalui pameran berstandar, alur cerita yang kuat, serta teknologi imersif.

Peringatan tahun ini mengusung tema “Kebudayaan Soko Guru Bangsa, Museum sebagai Rumah Budaya”. Acara tersebut juga diisi penganugerahan Ksatria Award dari Museum Rudana kepada sejumlah pegiat budaya dan museum. Fadli menerima Anugerah Mahottama Adibudaya Nusantara.

Museum Menghubungkan Edukasi dan Ekonomi Budaya

Pemerintah melihat museum sebagai bagian dari rantai ekonomi budaya. Kegiatannya dapat membuka ruang kolaborasi bagi seniman, kurator, peneliti, pemandu, pelaku usaha kreatif, penyelenggara kegiatan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah di sekitarnya.

Bagi pembaca di Indonesia, arah kebijakan ini berarti museum diposisikan bukan sekadar tujuan kunjungan, melainkan ruang belajar dan bagian dari ekosistem pariwisata budaya. Pengembangan museum yang terhubung dengan agenda seni, kuliner lokal, kerajinan, dan kegiatan komunitas dinilai dapat memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Namun, pengembangan ekonomi tetap harus berjalan bersama fungsi museum sebagai lembaga pelindungan, penelitian, pendidikan, dan pemeliharaan memori kolektif bangsa. Kualitas edukasi, keberlanjutan pendanaan, kondisi koleksi, manfaat bagi masyarakat, dan akses pengunjung menjadi ukuran yang perlu diperhatikan.

Acara di Museum Rudana juga mencakup pembukaan pameran tunggal perupa Wayan Kun Adnyana bertajuk “Gunung Suwung: Enigmatic Color Triumph through a Retrospective Journey”.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Ekonomi & Keuangan

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.