Kabar18.com

Sabtu, 19 September 2026

Warga Padati BACCE 2026 di Blang Padang, Festival Kopi Banda Aceh Perdana Masuk Kalender KEN

Festival kopi tiga hari di Banda Aceh dibuka Wali Kota Illiza bersama pejabat Kementerian Pariwisata, bukan menteri seperti jadwal awal. Arena ramai sejak Jumat sore dan tiket masuknya gratis.

Oleh

Penanggung Jawab Redaksi: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: seorang peracik kopi tradisional Aceh menuang kopi saring dari ketinggian di sebuah warung kopi; foto diambil pada 2020, bukan di arena BACCE 2026. (…
Ilustrasi: seorang peracik kopi tradisional Aceh menuang kopi saring dari ketinggian di sebuah warung kopi; foto diambil pada 2020, bukan di arena BACCE 2026. (Foto: Hubbfoto / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0)

Banda Aceh — Pengunjung memenuhi Lapangan Blang Padang sejak Jumat sore, 18 September 2026, pada hari pertama Banda Aceh Colossal Coffee Experience (BACCE) 2026. Festival kopi tiga hari garapan Pemerintah Kota Banda Aceh itu baru pertama kali masuk kalender Karisma Event Nusantara (KEN) milik Kementerian Pariwisata.

Seremoni pembukaan berlangsung Jumat malam di panggung utama. Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menggiling biji kopi arabika dengan alat manual bersama Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan dan Penyelenggara Kegiatan Kementerian Pariwisata Hafiz Agung Rifa’i, Asisten Deputi Event Daerah Reza Fahlevi, dan unsur forum koordinasi pimpinan daerah. Laman Prokopim Pemko Banda Aceh mencatat Hafiz juga menyerahkan Piagam KEN 2026 kepada Illiza.

Susunan itu berbeda dari rencana awal. Rilis Pemko tertanggal 17 September, yang turut dimuat RRI dan kanal Info Tempo, menjadwalkan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana membuka sekaligus menutup festival. Pada hari pelaksanaan, Serambinews menulis pembukaan akan dilakukan Hafiz. Laporan Prokopim dan dua tulisan Komparatif.id tentang malam pembukaan tidak menyebut kehadiran menteri.

“Di Banda Aceh, kopi bukan sekadar minuman. Kopi adalah budaya, ruang bertemu, ruang diskusi, dan penggerak ekonomi,” kata Illiza dalam sambutannya, seperti dikutip laman Prokopim. Menurut dia, julukan Kota Seribu Warung Kopi menggambarkan keseharian warga: di kedai kopi orang bertukar gagasan dan menemukan peluang usaha.

Dari kopi saring sampai latte art

Komparatif.id, yang memantau arena pada hari pertama, mencatat pengunjung datang dari kalangan anak muda hingga keluarga. Mereka mencicipi kopi, membeli kopi bubuk kemasan dan produk UMKM, serta menonton barista mengoperasikan beragam mesin di stan peserta. Sebagian memilih lesehan atau duduk di rumput sambil menyaksikan panggung.

Agenda hari pertama dimulai sekitar pukul 09.30 WIB dengan lomba kopi saring, seduhan khas Aceh. Selepas salat Jumat giliran kompetisi latte art, yakni seni menghias permukaan kopi dengan susu. Sore harinya Tommy Harvie, pendiri dan CEO Harvies Coffee, mengisi Banda Aceh Coffee Talk bertema Sustainable Coffee Talks atau kopi berkelanjutan. Ia bercerita tentang merintis usaha kopi sejak usia muda. Malamnya panggung diisi Gerakan Seniman Masuk Sekolah, Wonderlust Dance, Orang Hutan Squad, dan Genda Percussion.

Penyelenggara membagi lapangan ke dalam beberapa zona: panggung utama, panggung mini, area pertunjukan kopi, truk kopi, dan deretan tenant. Tersedia pula pusat informasi, pos kesehatan, dan pos keamanan.

Mengapa ini penting

KEN adalah program Kementerian Pariwisata untuk mengembangkan dan mempromosikan agenda wisata serta ekonomi kreatif di daerah. Agenda yang tercantum di kalender itu lolos kurasi; menurut Pemko, BACCE bersaing dengan ratusan usulan dari berbagai daerah. Artinya, kebiasaan warga Aceh berkumpul di kedai kopi kini dipasarkan sebagai alasan orang berkunjung ke Banda Aceh, dan pelaku UMKM kopi mendapat etalase yang lebih luas.

Illiza menaruh harapan ekonomi pada festival ini. “Kopi dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan budaya, menggerakkan UMKM, membuka lapangan kerja, sekaligus menarik wisatawan untuk mengenal Banda Aceh lebih dekat,” ujarnya dalam rilis Pemko. Di panggung pembukaan ia menyebut status KEN sebagai “amanah sekaligus tantangan”: setiap rupiah yang dibelanjakan harus terbukti menyejahterakan warga dan mengangkat promosi daerah.

Dari sisi kementerian, Hafiz mengatakan kementeriannya terus memperkuat event yang berakar pada budaya lokal dan kekayaan intelektual. Sasarannya daya saing global, wisatawan yang lebih berkualitas, masa tinggal lebih panjang, dan belanja lebih besar.

Angka kunci

  • 18–20 September 2026: jadwal BACCE di Lapangan Blang Padang, menurut Pemko Banda Aceh.
  • 125 atau 110: jumlah agenda KEN 2026. Rilis Pemko menulis 125 event, sedangkan Hafiz dalam sambutannya menyebut BACCE terpilih “dalam 110 Karisma Event Nusantara 2026”.
  • Lebih dari 10 juta kunjungan wisatawan dan perputaran ekonomi Rp17,01 triliun: capaian KEN sepanjang 2025 yang dikutip rilis Pemko.
  • Gratis: harga tiket masuk yang tercantum di laman agenda Indonesia.travel milik Kementerian Pariwisata.

Apa selanjutnya

Sabtu, 19 September, panggung BACCE dijadwalkan menampilkan enam pengisi acara: Jal Brahim, Aidil Faraby, dan Faiz Affandy, bersama Purnama & The Roll Pumpkin, Haliya, serta Seuramoe Reggae. Hari terakhir, Minggu, 20 September, berisi pertunjukan Canang Trieng, penyerahan hadiah lomba, serta penampilan Pupha Ethanica, Haifa Azzura, dan Apache.

Rilis Pemko 17 September mencantumkan Menteri Pariwisata sebagai pejabat yang dijadwalkan menutup festival. Illiza meminta pengunjung ikut menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan, dan kenyamanan arena sampai acara selesai.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.