Kabar18.com

Jumat, 23 Oktober 2026

Bank Indonesia Nilai Ekonomi Lima Wilayah Tetap Terjaga

Bank Indonesia menilai ekonomi lima wilayah Indonesia tetap terjaga pada triwulan III 2026. Inflasi nasional tercatat 3,28% secara tahunan dan proyeksi 2026 masih dalam sasaran.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Bank Indonesia.
Ilustrasi: Bank Indonesia. · Foto: Medelam / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Jakarta — Bank Indonesia menyatakan pertumbuhan ekonomi di lima wilayah Indonesia pada triwulan III 2026 tetap terjaga, ditopang permintaan domestik, dalam Laporan Nusantara yang terbit 20 Oktober 2026.

Laporan tersebut mencakup Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali–Nusa Tenggara, serta Sulawesi–Maluku–Papua. Bank Indonesia menyebut kinerja konsumsi rumah tangga dan investasi di berbagai wilayah tetap terjaga. Perekonomian wilayah untuk 2026 diprakirakan tumbuh lebih tinggi dari tahun sebelumnya, dengan dukungan permintaan domestik yang tetap kuat di mayoritas wilayah.

Ekspor komoditas utama di sejumlah wilayah diprakirakan membaik. Perbaikan itu antara lain berkaitan dengan peningkatan ekspor olahan tembaga di Jawa dan Bali–Nusa Tenggara, ekspor olahan nikel di Sulawesi–Maluku–Papua, serta aktivitas pariwisata di Bali–Nusa Tenggara. Namun, ekspor di Sumatera dan Kalimantan masih menghadapi kendala produksi dan distribusi akibat cuaca ekstrem.

Inflasi Indeks Harga Konsumen gabungan kota pada triwulan III 2026 melandai dan tetap berada dalam kisaran sasaran.

Stabilitas ekonomi wilayah penting bagi rumah tangga

Gambaran ekonomi regional penting bagi pembaca karena memengaruhi ketersediaan barang, harga pangan, peluang usaha, investasi, serta aktivitas perdagangan dan pariwisata di berbagai daerah. Bank Indonesia memprakirakan inflasi Indeks Harga Konsumen tahun 2026 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1%.

Bank Indonesia menyebut prospek inflasi didukung inflasi inti yang terkendali, ekspektasi inflasi yang terjangkar, kapasitas ekonomi yang memadai, imported inflation yang terjaga, dan dampak positif digitalisasi. Risiko inflasi pangan tetap perlu diwaspadai, terutama di Kalimantan dan Sulawesi–Maluku–Papua, yang masih mencatat tekanan tinggi.

Tekanan harga pangan dipengaruhi antara lain oleh gangguan cuaca ekstrem El Nino terhadap produksi di sejumlah wilayah sentra. Laporan juga menyebut inflasi harga yang diatur pemerintah melambat di berbagai wilayah, dipengaruhi perkembangan tarif angkutan udara, di tengah kenaikan harga bensin nonsubsidi. Pengendalian inflasi pangan dilakukan melalui penguatan sinergi Bank Indonesia dan pemerintah dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah serta Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Ekonomi & Keuangan

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.