Kabar18.com

Minggu, 27 September 2026

Bunga The Fed Menekan Investasi Manufaktur Indonesia

Kenaikan suku bunga The Fed menambah tekanan biaya pendanaan, nilai tukar, dan risiko bagi investasi manufaktur Indonesia. Namun, investasi belum berhenti secara luas.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Mesin otomasi dan ban berjalan di dalam sebuah pabrik manufaktur modern.
Ilustrasi: Mesin otomasi dan ban berjalan di dalam sebuah pabrik manufaktur modern. · Foto: Freek Wolsink / Pexels

Jakarta — Kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) menambah tekanan terhadap rencana investasi industri manufaktur di Indonesia pada September 2026, tetapi belum menunjukkan penghentian investasi secara luas.

Tekanan tersebut terutama terkait biaya pendanaan, nilai tukar, dan perubahan minat investor terhadap risiko. Bagi perusahaan yang merencanakan ekspansi dengan tingkat utang tinggi, khususnya yang menggunakan pinjaman dalam dolar Amerika Serikat, kenaikan biaya modal dapat mengubah perhitungan kelayakan investasi.

The Fed menaikkan Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4% pada 16 September 2026. Kebijakan itu menambah tekanan terhadap biaya pendanaan global dan nilai tukar, sementara pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya bahan baku, mesin, dan barang modal impor.

Tekanan bunga membuat investasi manufaktur lebih selektif

Menurut Kadin Indonesia, kondisi tersebut mendorong perusahaan lebih selektif terhadap proyek baru. Proyek dengan margin tipis, kebutuhan pembiayaan besar, atau ketergantungan tinggi pada impor akan dievaluasi lebih ketat. Proyek yang sudah berjalan atau memiliki fundamental kuat kemungkinan tetap dilanjutkan.

Ekonom CORE Indonesia menilai kenaikan suku bunga mengubah perhitungan investasi melalui kenaikan biaya pendanaan global, penguatan dolar, dan peningkatan premi risiko pasar berkembang. Dampaknya terhadap manufaktur Indonesia terlihat melalui biaya kredit, nilai tukar, dan permintaan.

Bisnis.com juga melaporkan bahwa industri dengan kandungan impor tinggi dan margin tipis, termasuk farmasi, elektronika, dan otomotif, lebih rentan terhadap tekanan biaya akibat pelemahan rupiah. Perusahaan dapat menunda impor mesin atau menahan ekspansi ketika ketidakpastian nilai tukar membuat kalkulasi investasi semakin mahal.

Dengan demikian, laporan-laporan tersebut menggambarkan penyesuaian prioritas dan penilaian ulang investasi, bukan pembekuan investasi manufaktur secara menyeluruh.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Analisis

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.