Minyak di Atas US$100, Subsidi Energi Rp331,4 Triliun: Sekuat Apa APBN Menahan Harga BBM
Analisis: Brent ditutup US$103,87 per barel ketika subsidi dan kompensasi energi sudah menyerap 74,2 persen pagu. Pemerintah berjanji menahan harga Pertalite dan Solar sampai 31 Desember, dan selisihnya ditanggung APBN.
Oleh Mukmin John
Penanggung Jawab Redaksi: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Jakarta — Harga minyak Brent ditutup US$103,87 per barel pada Jumat, 18 September 2026. Pada hari yang sama, Menteri Keuangan Suahasil Nazara melaporkan subsidi dan kompensasi energi sudah mencapai Rp331,4 triliun, sementara pemerintah tetap berjanji menahan harga Pertalite dan Solar sampai akhir tahun.
Jumlah itu, posisi per 31 Agustus, setara 74,2 persen pagu dan tumbuh 52,1 persen dari Rp218 triliun pada periode sama 2025. Menurut paparan yang dikutip kumparan, subsidi mengambil Rp177,1 triliun dan kompensasi Rp154,4 triliun. Kompensasi, yakni penggantian kepada badan usaha atas selisih harga jual yang ditahan pemerintah, setahun lalu baru Rp68,6 triliun. Kini nilainya lebih dari dua kali lipat.
Dalam konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan, Suahasil menyebut pembayaran kepada PLN dan Pertamina memang dibuat lebih besar. Tujuannya, kata dia, "supaya PLN dan Pertamina memiliki keleluasaan cash" untuk terus menyediakan barang yang harganya diatur pemerintah.
Di pasar, tekanan sedikit mengendur. CNBC Indonesia Research, merujuk data Refinitiv, mencatat Brent turun 0,91 persen pada Jumat dan West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,58 persen ke US$100,30. Dalam tiga hari Brent kehilangan 4,5 persen, menyusul laporan bahwa Beijing, atas permintaan Riyadh, meminta Teheran mengerem serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas minyak Saudi. Sepanjang pekan Brent turun 0,71 persen dan memutus kenaikan dua pekan.
Pasokan belum pulih. Hanya empat kapal kargo melewati Selat Hormuz pada Kamis, jauh dari rata-rata hampir 16 kapal sehari dalam sepuluh hari sebelumnya. Tiga stasiun pompa pipa East-West milik Saudi rusak akibat serangan pekan lalu, dan Saudi Aramco mengabari sedikitnya dua kilang Eropa bahwa kiriman bulan depan batal. JPMorgan menyatakan tidak punya proyeksi dasar yang jelas untuk pasar minyak.
Mengapa ini penting
APBN 2026 disusun dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) US$70 per barel. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia pada 11 September mengatakan ICP sudah US$106–108, tetapi rata-rata Januari–September sekitar US$85–90. "Jadi, overall masih oke," ujarnya, seperti dikutip CNN Indonesia. Dengan angka Bahlil itu, rata-rata ICP berada US$15–20 di atas asumsi.
Berapa ongkos selisih tersebut? Pada Maret, pendiri ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto, seperti dikutip kumparan, mengatakan tiap kenaikan US$1 per barel di atas asumsi berpotensi menambah defisit terkait subsidi energi Rp6–7 triliun. Ia juga mengingatkan dampaknya dihitung per tahun anggaran, sehingga harga BBM subsidi tidak perlu buru-buru dinaikkan. Pengamat energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti, dalam laporan yang sama, menghitung selisih Rp81,2 triliun untuk Pertalite dan Solar pada skenario terburuk penutupan Selat Hormuz. Keduanya pernyataan Maret, bukan hitungan pekan ini.
Pemerintah punya patokan sendiri. Pada 16 April, menurut siaran Kementerian ESDM, saat rata-rata ICP belum melewati US$77, Bahlil menyebut harga BBM aman "kalau sampai dengan 100 dolar". Menurut angka Bahlil pada 11 September, harga harian sudah di atas garis itu, sedangkan rata-rata tahunan masih di bawahnya. Beban juga datang dari volume: konsumsi BBM bersubsidi naik 8,8 persen, dan ekonom Universitas Negeri Manado Robert R. Winerungan, dikutip Bisnis.com, melihat sebagian pengguna Pertamax mulai pindah ke Pertalite.
Ruang fiskal ada, tetapi tidak lebar. Defisit APBN hingga Agustus Rp240,1 triliun atau 0,9 persen produk domestik bruto, dengan keseimbangan primer surplus Rp154 triliun. Namun CNBC Indonesia melaporkan pemerintah memperkirakan defisit akhir tahun sekitar 2,85 persen PDB, di atas target awal 2,68 persen.
Angka kunci
- Rp331,4 triliun: subsidi dan kompensasi energi Januari–Agustus 2026, 74,2 persen pagu (Kementerian Keuangan).
- US$103,87 dan US$100,30 per barel: penutupan Brent dan WTI pada 18 September (Refinitiv, dikutip CNBC Indonesia).
- US$70 per barel: asumsi ICP APBN 2026; rata-rata Januari–September sekitar US$85–90 menurut Bahlil.
- 11,58 juta kiloliter: volume BBM bersubsidi, naik 8,8 persen. LPG 3 kg naik 2,6 persen, pelanggan listrik bersubsidi naik 2,1 persen menjadi 43,3 juta, pupuk naik 23,4 persen.
- 1 juta barel per hari: kebutuhan impor minyak Indonesia; 20–25 persen di antaranya dipasok lewat Selat Hormuz (Bahlil, dikutip Bisnis.com).
Apa selanjutnya
Bahlil, dalam acara InTechSea 2026 di Jakarta pada 14 September, menegaskan harga BBM subsidi dikunci sampai 31 Desember, "berapa pun harganya di dunia". Tiga hari sebelumnya ia menyebut penambahan anggaran subsidi sebagai bagian dari langkah pemerintah. Dengan 74,2 persen pagu terpakai dalam delapan bulan, tersisa 25,8 persen untuk empat bulan terakhir.
Dari luar negeri, tiga agenda layak dipantau: upaya Saudi memulihkan sekitar 50 persen kapasitas pipa East-West dalam beberapa hari, rencana Presiden Prancis Emmanuel Macron menggelar pertemuan G7 tentang pelepasan cadangan energi strategis lewat International Energy Agency, dan Sidang Majelis Umum PBB pekan depan yang disebut akan dihadiri delegasi Iran.
Sumber
- CNBC Indonesia Research — Harga minyak jatuh 5%, China dan Arab Saudi (19 Sep 2026)
- kumparan — Realisasi subsidi dan kompensasi energi Rp331,4 triliun hingga Agustus 2026 (18 Sep 2026)
- Suara.com — Realisasi anggaran subsidi tembus Rp331,4 triliun per Agustus 2026 (18 Sep 2026)
- CNN Indonesia — Bahlil jamin harga Pertalite-Solar tak naik meski minyak tembus US$100 (11 Sep 2026)
- Bisnis.com — Dilema BBM subsidi: menjaga inflasi atau menahan beban APBN (15 Sep 2026)
- CNBC Indonesia — APBN kucurkan Rp2.295 triliun per Agustus 2026, defisit Rp240 triliun (18 Sep 2026)
- Kementerian ESDM — Menteri Bahlil: harga BBM subsidi tak naik hingga akhir tahun (17 Apr 2026, konteks)
- kumparan — Harga minyak mentah di atas asumsi APBN 2026, subsidi berpotensi jebol Rp81 triliun (10 Mar 2026, konteks)
Berita berikutnya

Pekan Pertama Menkeu Suahasil: APBN Disebut On-Track, Subsidi dan Batas Defisit Jadi Ujian
Analisis: Empat hari setelah dilantik, Suahasil Nazara melaporkan defisit 0,93 persen PDB dan menegaskan batas 3 persen. Kenaikan subsidi energi, proy…
Baca juga





